Sejarah Pertanda
Banyak sejarah dibuat Jokowi –termasuk kemarin: kali pertama ada mantan presiden hadir di persidangan pidana di Indonesia. Yakni di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Ijazah yang ditunjukkan di pengadilan itu, kata Roy, berbeda dengan yang pernah ditunjukkan polisi. Juga berbeda dengan yang ditunjukkan Jokowi ke beberapa wartawan di kediamannya. Maka pengacara Roy minta agar ijazah itu diperiksa di lab forensik independen. Jokowi keberatan.
Sepanjang pagi kemarin kesempatan bertanya memang hanya diberikan ke tim jaksa. Jokowi menjawab sangat lancar dan dingin –meski nadanya Anda sudah tahu: lirih dan pelan.
Jokowi rinci menceritakan mulai dari proses mendaftar, kuliah, wisuda, dan seterusnya. Termasuk kuliah kerja nyata selama tiga bulan di desa.
"Apakah ketika muda, saksi punya kumis dan pakai kacamata?" tanya jaksa sambil memperlihatkan foto berkumis di ijazahnya.
"Iya. Saya berkumis. Tipis. Dan berkacamata," jawab Jokowi.
Jaksa lantas menunjukkan foto-foto masa muda Jokowi: semua berkumis dan berkacamata. Jokowi membenarkan bahwa itu foto dirinya.
"Yang ini siapa?" tanya jaksa sambil menunjukkan foto bersama wanita.
"Itu istri saya. Statusnya masih calon istri saat itu," jawab Jokowi.
Rupanya setelah istirahat makan siang siaran langsung dari dalam ruang sidang dilarang. Walhasil ketika sidang dilanjutkan dan giliran pengacara/terdakwa mengajukan pertanyaan tidak ada lagi siaran langsung.
Udara bulan November di luar persidangan sangat panas. Cuaca sangat menyiksa untuk seluruh Jawa. Sidang kemarin berlangsung sampai sore. Sepanjang itu pula para pendukung Jokowi kepanasan.
Baca Juga
Di bidang politik cuaca November juga sangat panas di Jakarta. Ribuan Marinir didatangkan ke Jakarta. Pertama, ada Jokowi dan ribuan pendukungnya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Kedua penyadapan telepon Presiden Prabowo berkembang ke tuduhan makar. Artinya: ada upaya untuk melumpuhkan Presiden Prabowo.
Bisa jadi pencarian dalang penyadapan itu akan membawa implikasi sangat luas.
Maka di tengah heboh berita penyadapan, datangnya ribuan massa pendukung itu seperti dukungan moral yang nyata untuk Jokowi –pun dalam menghadapi kemungkinan perkara penyadapan itu menyenggol namanya.
Sejarah baru –mantan presiden hadir di pengadilan– sudah tertoreh lancar. Pengerahan massa PSI juga sudah selesai. Satu ketegangan sudah lewat. Dengan selamat. Masih satu ketegangan lagi di depan: penyadapan dengan motif makar itu.
Kita masih menunggu: rencana makarnya seperti apa. Dilacakkah lokasi presiden dan begitu memungkinkan dibunuh? Atau presiden dibuat tidak bisa menjalankan tugas hingga terpaksa menyerahkan kekuasaan ke wakil? Atau memaksa presiden turun karena dibongkar hasil sadapan yang menggambarkan telah terjadi pelanggaran sumpah atau pelanggaran konstitusi?
Berita Terkait
Penyadapan Beneficial
Lama Profesor