Catatan Dahlan Iskan . 29/10/2026, 05:31 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Tidak saya sangka: masih bisa bertemu Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun di Beijing. Bulan lalu saya baca berita: Presiden Prabowo sudah menunjuk duta besar baru yang akan menggantikannya. Namanya: Irawan Ronodipuro, putra seorang diplomat legendaris Indonesia, M. Yusuf Ronodipuro, pengurus pusat Gerindra.
Memang untuk jabatan duta besar tidak bisa langsung bertugas. Setelah diangkat ia masih harus diusulkan ke pemerintah negara yang akan ditempati. Dalam hal Irawan, pemerintah Tiongkok harus lebih dulu menyetujui penempatannya. Itu perlu waktu. Bisa cepat, bisa lambat. Rata-rata perlu proses enam bulan.
Berarti Dubes Djauhari masih akan tetap di Beijing, setidaknya, mungkin, sampai April tahun depan. Karena itu ketika saya dan rombongan pengusaha ke Beijing masih bisa bertemu.
Ada yang baru di Kedubes RI di Beijing. Kini ada jabatan baru di sana: wakil duta besar. Wanita. Muda. Langsing. Tinggi. I-nyi lima. Namanyi satu kata: Irene.
"Saya lahir di Jayapura," ujar wadubes. Bapaknyi orang Pekanbaru. Ibunyi wanita Jakarta. Dia seorang dokter yang jadi diplomat. Pendidikan S-2 nyi di Universitas Pertahanan: bidang diplomasi pertahanan.
Dokter Irene unik: pendidikan SMA-nyi di kota Dalian –satu kota cantik di provinsi Liaoning –di seberang Korea. Dalian adalah kota pertama di Tiongkok yang berhasil mengubah kekumuhan menjadi kota yang amat cantik. Setelah Dalian berubah barulah kota-kota lain di seluruh Tiongkok mengikuti jejak kecantikannya.
Irene saat dilantik Presiden Prabowo Subianto, Desember tahun lalu.--
Djauhari Oratmangun memang legenda hidup. Ia duta besar terlama dalam sejarah diplomasi modern Indonesia: sembilan tahun.
Dua tahun lalu, ketika bertemu dengannya, saya menyangka ia sudah tercatat sebagai duta besar terlama. Ternyata ia mengoreksi penilaian saya itu. "Duta besar yang di UEA masih lebih lama. Beda satu bulan," katanya.
Satu bulan setelah pertemuan itu sang duta besar UAE diganti. Berarti dua bulan kemudian Djauhari sudah pemegang rekor terlama. Apalagi dua tahun berikutnya pun belum diganti. Akan kian sulit mengejar rekornya.
Selama Djauhari menjabat duta besar, hubungan perdagangan Indonesia-Tiongkok naik tiga kali lipat. Menjadi yang terbesar. Pun bila dibanding dengan seluruh negara Eropa dijadikan satu. Yang lebih hebat lagi: kini perdagangan Indonesia surplus dari Tiongkok –seperti mustahil dicapai mengingat banjirnya barang Tiongkok ke Indonesia.
Saya amat jarang mampir ke salah satu kedutaan kita di luar negeri. Lain dengan Beijing. Saya tergolong sering ke Keduataan Besar Republik Indonesia di Beijing. Ada saja urusan. Pernah karena sulit cari tempat berlebaran Idul Fitri –saat kami kebetulan di Beijing. Ke Kedutaanlah yang pasti ada ketupat Lebaran.
Pernah karena diundang untuk mengisi acara Ramadan di situ –ketika didengar saya sedang di Beijing. Pernah juga karena harus mengantar pasien transplantasi hati untuk minta legalisasi dokumen.
Selasa malam kemarin kebetulan ada acara penting di Kedubes RI Beijing: resepsi diplomatik. Yang diundang kedutaan seluruh dunia di Beijing. Rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 kebetulan ke Beijing. Sekalian diundang.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id