Catatan Dahlan Iskan . 22/10/2026, 05:33 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Bersejarah: mati lampu adalah perbuatan pidana. Itu di Batam, Indonesia. Akibat mati listrik total di sana 12 Oktober lalu, polisi setempat menetapkan empat orang jadi tersangka: tiga orang dari PLN, satu orang dari pihak kontraktor.
Tiga orang itu kelihatannya bekerja di Gardu Induk Sei Harapan. Yakni GI yang berada di Sekupang, tidak jauh dari arah ke terminal fery kapal cepat menuju Singapura.
GI Sei Harapan itu tiba-tiba bermasalah. Seekor kera berhasil masuk ke GI. Tentu loncat sana-sini. Terkenalah kabel bertegangan tinggi. Terjadilah korslet. Listrik sepulau Batam dan Bintam padam. Total. Serentak.
Itu pukul 06.00 lebih sedikit. Hari Senin. Semua orang sedang siap berangkat kerja di hari pertama minggu itu. Sebagian sedang mandi pagi. Kehidupan ekonomi pun seperti berhenti. Batam terlalu penting bagi ekonomi Indonesia. Pun bagi harga diri bangsa. Utamanya di mata tetangga di seberang mata: Singapura.
Dirut PLN langsung diberhentikan –meski listrik di Batam adalah tanggung jawab dirut dan para direktur PT PLN di Batam. Tapi itu memang anak perusahaan PLN –meski konon PLN Pusat tidak punya kuasa mutlak pun untuk sekadar mengangkat direksi anak perusahaan yang itu.
Mengapa monyet bisa masuk GI? Di situlah polisi menganggap terjadi keteledoran petugasnya. Polisi menyinggung kenapa pagarnya tidak dialiri listrik sehingga monyet yang berusaha masuk GI sudah tewas ketika masih di pagar.
Saya agak ragu benarkah polisi mengatakan itu –seperti ditulis banyak media. Kan tidak ada kebijakan agar pagar GI harus dialiri listrik. Itu sangat membahayakan kera –ups manusia.
Sebenarnya tidak aneh monyet bisa masuk ke GI Sei Harapan. GI itu di dekat hutan. Tidak sampai 1 km dari GI adalah hutan lindung.
Saya pun mengontak sahabat Disway di Batam: Marganas Nainggolan. Saya minta tolong agar ada wartawan yang pergi ke lokasi. Marganas menugaskan wartawan muda, Panahatan Nainggolan, dari BatamNow.com. Ia alumnus Unrika (Universitas Riau Kepulauan) dari fakultas hukum.
Menurut pandangan Panahatan, di dekat GI itu ada pohon rindang. "Menurut warga setempat di pohon itulah setiap malam terlihat banyak monyet," ujar Panahatan. "Saya sudah mewawancarai warga yang menyaksikannya sendiri," ujarnya.
Dari hasil liputan Panahatan itu saya jadi tahu bahwa GI Sei Harapan adalah GI yang masih baru. Ada dua trafo besar di situ. Yang satu sudah terpasang sekitar tiga bulan lalu. Yang satu lagi baru terpasang satu bulan lalu.
"Senin pagi itu terdengar suara ledakan yang keras dari GI itu," ujar seorang warga kepada Panahatan.
Kawasan sekitar GI ternyata perumahan liar yang padat. Sekitar 200 ruli memenuhi dua sisi GI. Satu sisinya lagi empang. Sisi satu lagi jalan raya.
Ia belum dapat info: apakah kera itu datang ke GI seorang diri atau bergerombol seperti kebiasaan di komunitas monyet. Sayang kera tersebut ditemukan tewas mengering sehingga tidak bisa ditanya apakah ia datang ke situ dengan maksud sengaja ingin bunuh diri: misalnya karena stres akibat hutan habitat mereka kian sempit di Batam.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id