Catatan Dahlan Iskan . 16/10/2026, 05:27 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Ketika beberapa bulan lalu RUPS mengangkat kembali Dr Darmawan Prasojo tetap sebagai dirut PLN ia tampak orang yang sangat kuat: sejak lama baru ada kali itu dirut PLN dapat masa jabatan kedua.
Ternyata periode kedua itu hanya berumur 699 hari. Rabu malam kemarin RUPS PT PLN mencopotnya: diganti tokoh internal PLN, Suroso Isnandar.
Yang banyak diperbincangkan di medsos bukan soal penggantiannya, tapi caranya. Yakni dilakukan hanya dalam sebuah RUPSLB via Zoom. Maka penggantian pejabat via telpon, via utusan, dan via Zoom menjadi sudah biasa.
Negara kita kelihatannya kian efisien.
RUPS via Zoom sebenarnya tidak aneh. Terutama sejak ada pandemi Covid-19. Setelah Covid berlalu pun RUPS via Zoom masih sering dilakukan. Memang lebih praktis. Terutama di perusahaan yang tidak mementingkan hubungan antar manusia lagi.
Apalagi di PLN. Sahamnya 100 persen masih milik negara. Belum berstatus go public pula. Maka pada dasarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT PLN cukup dihadiri satu orang saja. Yakni yang mewakili pemegang saham satu-satunya: negara.
Dulu yang disebut "negara" di situ adalah menteri keuangan yang dalam praktiknya dikuasakan ke menteri BUMN.
Kini "negara" itu diwakili oleh Danantara. Ups... masih ada satu pemegang saham lainnya: Badan Pengelola BUMN --d/h kementerian BUMN. Meski kepemilikan saham "Badan" itu hanya satu persen sebutannya "saham merah putih": tidak boleh ada keputusan tanpa persetujuan yang satu persen itu. Ia negara juga.
Walhasil RUPS PT PLN sebenarnya tidak perlu juga lewat Zoom. Cukup diputuskan oleh Danantara dan "Badan" itu lewat satu lembar dokumen diberi judul keputusan RUPS. Selesai. Tidak boleh ada yang keberatan.
Bahwa harus ada RUPS itu semata karena di dalam AD/ART perseroan disebutkan penggantian direksi harus dilakukan oleh RUPS. Tapi, ya, itu tadi. Keputusan RUPS ditentukan oleh kehendak suara mayoritas. Sedang di PLN negara bukan saja mayoritas melainkan pemilik tunggal.
Jabatan Dirut PLN memang salah satu kursi panas di negeri ini. Satunya lagi Dirut Pertamina. Tapi tetap saja banyak yang ingin merasakan seberapa panas kursi itu. Jangan-jangan ternyata sejuk dan empuk.
Panasnya kursi itu juga lantaran begitu banyak yang ingin memanfaatkan PLN. Mereka lupa bermain di PLN itu sama dengan main api: misalnya byar-pet di Jawa dan Sumatra belum lama ini. Korbannya rakyat. Korban lainnya: perekonomian negara.
PLN sebenarnya tahu apa penyebabnya, tapi takut membicarakannya: kelangkaan pasok batu bara untuk kebutuhan dalam negeri sendiri.
Minggu lalu terjadi lagi yang lebih fatal-jenderal: black out listrik di seluruh Batam. Malu. Mati lampu di depan hidung Singapura yang bermandi cahaya.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id