Camino Nakasendo
Lihatlah papan petunjuk di dekat saya berdiri itu: bunyinya Tsumago-juku. Bagi yang bisa bahasa mandarin dua kata terakhir itu dibaca ”ru kou” --orang Jepang membacanya dengan ”juku”. Artinya sama: jalan masuk.
Saya sendiri tidak begitu percaya akan ada air terjun yang menakjubkan di kawasan itu. Sudah banyak objek air terjun kelas dunia yang saya datangi --mana mungkin di situ lebih istimewa. Memang, untuk menjaga kebahagiaan biasanya saya tidak pernah berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Takut kecewa.
Maka di akhir etape kedua saya tetap bahagia --meski air terjunnya kalah jauh --pun oleh air terjun Mata Jitu di pulau Moyo, Sumbawa, yang pernah dikunjungi rocker Mick Jagger dan bangsawan Inggris Putri Diana.
Secara keseluruhan saya puas dengan Camino di Nakasendo ini. Inilah peninggalan tahun 1600-an yang di banyak bagiannya masih dipertahankan keasliannya. Khususnya di dua etape yang dipilih tadi. Bangunan-bangunan kayunya masih asli --arsitekturnya maupun kayunya. Jalan setapaknya masih tidak banyak berubah.
Di setiap stop-nya ada kampung kuno. Jepang asli. Di situlah dulu pelancong Kyoto-Tokyo beristirahat. Ada penginapan. Ada restoran. Ada stasiun kendaraannya: stall kuda.
Saya bersyukur diajak Camino di Nakasendo. Sama dengan bersyukurnya saat dua tahun lalu diajak naik gunung Huang Shan --setelah dua gunung sakti lainnya saya daki: Tai Shan di Shandong dan Wuyi Shan di Fujian.
Saya sudah ke Jepang begitu banyak kali. Mulai dari yang paling selatan di Okinawa, Nagasaki, Fukuoka, sampai yang paling utara di Nemuro-nya Hokkaido. Tapi Camino Nakasendo tak kan terlupakan. (Dahlan Iskan)
Berita Terkait
Camino Nakasendo
Warisan Sumbu