Catatan Dahlan Iskan . 12/10/2026, 06:11 WIB

Pengusaha Pilihan

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

Oleh: Dahlan Iskan

Di Yogyakarta saya ingin tahu: seberapa banyak para pengrajin sudah memanfaatkan AI untuk perusahaan mereka. Hari itu, Jumat sore lalu, Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta mengadakan acara Temu Responden 2026. Mereka rata-rata adalah pengusaha.

Sri Darmadi Sudibyo, kepala BI KPw Yogyakarta, minta saya dialog dengan mereka. Temanya Stay Relevant, Stay Resilient: Strategi Bertumbuh di Era Perubahan.

Tempat acara itu di hotel Grand de Djokja --ternyata itu hotel lama Garuda (sempat bernama Natour Garuda, Inna Garuda, dan Grand Inna Malioboro). Letaknya tetap di ujung jalan Malioboro. Dekat stasiun Tugu --stasiun kereta api utama kota itu.

Lobi hotel ini ternyata sudah pindah ke samping, tidak lagi menghadap ke Jalan Malioboro. Itu sebagai antisipasi dilaksanakannya pembenahan Malioboro sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Unesco. Yakni ketika mobil tidak boleh lagi melintas di jalan utama itu.

Ballroom hotel itu penuh. Tiga ekspoter berani saya ajak naik panggung. Tiga-tiganya ekspor hasil kerajinan tangan. Khas Yogyakarta. Mereka adalah Johni Sahlan (Tashinda), Deddy Effendy (Palem Craft), dan Riris Simanjuntak (Indo Risakti).

Mereka semua yakin di zaman AI pun hub ekspornya masih akan meningkat. Seorang wanita, Riris Simanjuntak, owner Indo Risakti, ingin memperluas pasar ke Australia. Sudah lebih 15 tahun dia ekspor ke Amerika dan Eropa.

Di bagian mana dia memanfaatkan AI? "Saya minta AI data jaringan pasar di sana," ujarnyi. Dia mendapatkannyi. Kini tahapnya masih korespondensi. Belum mengarah ke penjualan.

"Kenapa hanya sebatas itu? Tidak langsung mengarah ke penjualan?"

"Kami kan bukan pedagang retail. Tidak jualan eceran," jawabnyi.

Saya pun tahu: pengusaha itu rupanya belum mau berubah. Dia masih berpegang pada doktrin lama: membedakan antara grorir dan eceran. Dia masih berpegang pada ajaran: ekspor itu untuk perusahaan importer di negara tujuan.

Maka saya diskusikan perlunya perubahan caranyi melangkah. Kebetulan saya punya contoh baru. Contoh itu baru saya dapat dua minggu lalu. Yakni saat saya mesong di rumah kematian Adi Jasa, Surabaya.

Mesong adalah istilah di kalangan orang Tionghoa untuk melayat. Yang meninggal: ibunda teman baik saya --saya sedang di luar negeri saat ayahnya meninggal dua tahun lalu. Sang ayah juga sahabat yang saya kagumi: 10 tahun sebelum meninggal ia berani bagi warisan secara total. Di umurnya yang 80 tahun justru baru mulai panggil guru nyanyi untuk lagu-lagu seriosa. Sejak muda ia suka nyanyi lagu-lagu keroncong seperti Sepasang Mata Bola.

Di mesong itu saya tidak bisa segera pamit. Begitu banyak menu ala carte yang ditawarkan untuk disajikan. Sepuluh ruangan disewa untuk persemayaman jenazah --pertanda berapa banyak pelayat yang datang.

Salah satu pabriknya saja memproduksi per (pegas) mobil hampir untuk semua mobil yang dibuat di Indonesia. Rumahnya yang besar punya halaman belakang lapangan golf. Yang membuat saya tidak bisa cepat pamit adalah datangnya satu telepon ke salah satu anak almarhumah. Orang dari Bandung sedang menuju ke sini. Ingin sekali bisa bertemu. "Sudah dalam perjalanan dari bandara," ujarnya.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id