Abuleke Bahlil
Saya juga tidak tahu. Saya ganti berbisik ke orang di sebelah saya –yang orang itu juga baru berbisik ke orang di sebelahnya. Akhirnya saya tahu arti abuleke –yang dua kali diucapkan Menko Bahlil Lahadalia saat berpidato di Investor Daily Summit 2026 di Raffles Hotel, Kuningan, Jakarta, kemarin.
Sepanjang summit saya menyimak isi pidato-pidato itu dengan seksama. Sekalian bernostalgia semasa jadi reporter muda. Bedanya, sekarang saya bisa sambil menilai: mana pidato yang berisi dan mana yang hanya abuleke.
Kemarin saya juga punya catatan khusus: pidato Bahlil sudah sangat berisi. Runtut. Logis. Jelas. Rupanya Bahlil tergolong orang yang fast learner. Celetukan lucunya masih ada –dan itu juga penting– tapi sudah lebih terkontrol. Ia bukan lagi golongan abuleke.
Yang tampil setelah Bahlil adalah Hashim Djojohadikusumo –adik Presiden Prabowo. Hasyim melihat ada dua sektor yang bisa membuat ''Indonesia Terang''. Pertama sektor perumahan dengan segala kaitan langsungnya. Ekonomi Tiongkok, katanya, bisa tumbuh tinggi karena berpuluh tahun lamanya sektor perumahan menyumbang pertumbuhan sampai 30 persen. "Kita baru 14 persen," ujar Hashim.
Yang kedua adalah internet. Persentase konektivitas internet terkait langsung dengan pertumbuhan ekonomi. "Di Korea 80 persen penduduknya tersambung internet selama 24 jam," ujar Hashim. "Kita baru 15 persen," tambahnya.
Memang, kata Hashim, ketersambungan penduduk Indonesia ke internet sudah tinggi. Tapi yang 24 jam baru 15 persen. "Dan lagi," katanya sambil mengayun-ayunkan HP, "kita umumnya tersambung internet masih lewat HP". "Itu mahal sekali," katanya.
Ternyata Hasyim melihat pentingnya "bonus demografi" dari sektor ini. Penetrasi internet di Indonesia akan tumbuh besar karena jumlah anak mudanya yang dominan. "Berarti masa depan kita terang," katanya seperti ikut membela kakaknya.
Tentu Hashim juga bicara di bidang green energi yang menjadi tugasnya sebagai utusan khusus Presiden Prabowo. Hasyim memuji Petrokimia Gresik yang punya kisah sukses dalam menjalankan carbon capture. Bukan hanya emisinya bisa dikurangi sampai 95 persen; lebih dari itu hasil tangkapan emisi tersebut punya nilai ekonomi tambahan. Bisa untuk bahan baking soda (sodium bicarbonate).
Lalu, tercapainya swasembada pangan juga memberi kabar baik untuk lingkungan hidup. "Produksi beras sudah cukup. Berarti perluasan sawah jutaan hektare tidak diperlukan lagi," ujar Hasyim. Bahkan, kata Hasyim, kita sudah ekspor beras ke Malaysia sebanyak setengah juta ton.
"Itu bisa menjawab kekhawatiran internasional bahwa Indonesia akan banyak menebang hutan untuk perluasan sawah," katanya.
Sebagai reporter, saya akan menyerahkan hasil liputan ini ke redaksi Disway. Suasana kebatinan saya sudah berbeda. Dulu, begitu menyerahkan hasil liputan ada ketakutan: dimarahi redaktur. Takut disuruh menulis ulang yang lebih baik. Takut disuruh wawancara lagi untuk memperkaya isi tulisan.
Baca Juga
Kini saya menyerahkan tulisan ini ke redaksi dengan hati mantap: tidak akan dimarahi atau disuruh menulis ulang. Tulisan ini rasanya sudah bukan jenis tulisan abuleke. (Dahlan Iskan)
Berita Terkait
Abuleke Bahlil
Rocky Gerung