Batik Tak Lagi Hanya untuk Acara Formal: Batik Pop Hadir di Batik Social Market 2026
Batik selama ini identik dengan busana tradisional dan momen-momen formal. Namun, bagaimana jika batik dipadukan dengan sneakers, tampil dalam konten media sosial.
Salah satu muse yang hadir dalam acara tersebut adalah Cut Mini, aktris dan model Indonesia, yang berjalan di area Dwangsa9 dengan mengenakan karya fesyen dalam suasana yang berbeda dari fashion show pada umumnya.
Konsep ini memberikan pesan bahwa ruang untuk merayakan budaya tidak harus selalu berada di tempat yang konvensional. Bahkan, sebuah restoran dapat berubah menjadi panggung kreativitas ketika budaya, fesyen, dan komunitas dipertemukan.
Di sela-sela rangkaian acara, para tamu undangan juga menikmati hidangan khas Indonesia dari Dwangsa9 Indonesian Restaurant, salah satunya Konro Makassar, hidangan khas Sulawesi Selatan dengan cita rasa rempah yang kaya. Hidangan tersebut tersedia dengan harga Rp110.000 nett per porsi.
Pengalaman bersantap tersebut menjadi semakin menarik dengan hadirnya permainan Mahjong yang turut menjadi salah satu aktivitas interaktif dalam Batik Social Market.
Para tamu dapat menikmati hidangan sembari bermain dan berinteraksi satu sama lain dalam suasana yang santai dan hangat.
Menariknya, bagi tamu yang belum pernah memainkan Mahjong sebelumnya, Ibu Dyah turut membantu memperkenalkan sekaligus mengajarkan cara bermain, sehingga permainan ini dapat dinikmati oleh siapa saja, termasuk mereka yang baru pertama kali mengenalnya.
Kehadiran Mahjong memberikan warna tersendiri dalam acara dan menciptakan momen interaksi yang lebih dekat di antara para tamu. Perpaduan antara fashion, culture, creativity, gastronomy, dan permainan Mahjong membuat Batik Social Market terasa semakin hidup serta menghadirkan pengalaman yang lebih beragam bagi para undangan.
Batik Pop Ingin Membawa Batik Lebih Dekat kepada Anak Muda
Bagi Dini Susistianti, Founder De Corner Events, tantangan dalam menjaga keberlanjutan batik bukan hanya bagaimana mempertahankan teknik dan tradisinya, tetapi juga bagaimana membuat generasi berikutnya merasa memiliki hubungan dengan batik.
“Batik adalah warisan yang hidup. Kalau kita ingin batik terus ada puluhan bahkan ratusan tahun ke depan, maka batik harus bisa berbicara dengan generasi yang hidup hari ini. Batik bisa menjadi bagian dari fashion dan lifestyle, dan bahkan bisa membuka peluang bisnis bagi anak muda. Itulah semangat Batik Pop yang ingin kami bawa melalui Batik Social Market,” ujar Dini Susistianti, Founder De Corner Events.
Menurutnya, apresiasi terhadap batik juga perlu berjalan beriringan dengan dukungan terhadap para pembatik dan pelaku kreatif di berbagai daerah.
Baca Juga
“Kami berharap semakin banyak anak muda yang bukan hanya tahu bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia, tetapi juga merasa bangga menjadikan batik sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup mereka. Di sisi lain, para pembatik lokal di berbagai daerah juga harus mendapatkan ruang dan apresiasi agar mereka terus berkarya,” tambah Dini.
Bukan Sekadar Melestarikan, tetapi Menghidupkan
Kehadiran Batik Pop dalam Batik Social Market memperlihatkan satu hal penting: pelestarian budaya tidak harus selalu berarti mempertahankan sesuatu dalam bentuk yang sama.
Tradisi dapat terus hidup ketika mampu berdialog dengan zaman.