Ruang Cerita . 04/10/2026, 17:20 WIB

Dua Hari di Pulau Pari, Liburan Singkat Penuh Arti

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Pagi itu di pertengahan Januari, sama seperti hari-hari lain di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Angin bertiup dari arah laut, menerpa daratan. Bau khas laut memenuhi hampir tiap penjuru Pelabuhan Kali Adem.

Pelabuhan ini sudah sangat modern untuk ukuran Pelabuhan antar pulau. Bangunan pelabuhan terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar ada pintu masuk, loket tiket, dan fasilitas penunjang lain.

Sementara di lantai dua, tersedia ruang tunggu penumpang serta fasilitas toilet. Pelabuhan Kali Adem juga dilengkapi dengan sarana eskalator untuk memudahkan perpindahan antar lantai.

Pelabuhan Kali Adem adalah salah satu pintu keluar masuk bagi warga maupun wisatawan yang ingin menuju pulau-pulau berpenduduk di Kawasan Kepulauan Seribu. Ada beberapa pelabuhan lainnya: Sunda Kelapa, Tanjung Pasir, dan Kamal Muara.

Dari Pelabuhan Kali Adem, saya bersama keluarga akan menempuh sebuah perjalanan yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Menumpangi kapal kayu menuju Pulau Pari, satu dari sekian banyak pulau di gugusan Kepulauan Seribu.

Awak kapal memberi info, perjalanan dari Pelabuhan Kali Adem ke Pulau Pari biasanya butuh waktu 1,5 sampai 2 jam. Tergantung kondisi laut dan berapa banyak pulau yang akan disinggahi, sebelum ke tujuan utama: Pulau Pari.

Dua Hari di Pulau Pari, Liburan Singkat Penuh Arti

Menerjang Ombak Perairan Kepulauan Seribu

Bersama dengan puluhan wisatawan lain, kami masuk ke dalam kapal kayu yang cukup besar. Hari ini hanya sekitar 50-an orang yang menjadi penumpang. Tapi, kapal kayu ini sepertinya bisa menampung hingga 100 penumpang lebih.

Kapal kayu ini memiliki atap yang bisa diduduki oleh penumpang. Jadi, jika ingin wajah dan tubuh diterpa angin laut sepanjang perjalanan, silahkan naik ke atap. Tapi bagi yang ingin duduk santuy, lebih baik memilih duduk di dalam kapal.

Tersedia berderet kursi kayu untuk diduduki penumpang. Tak ada nomor kursi, silahkan saja pilih kursi kosong yang disuka. Nampak pula tumpukan pelampung, jumlahnya melebihi jumlah penumpang.

Awak kapal pun mengimbau penumpang untuk mengenakan pelampung selama perjalanan. Tapi, sudah pasti tak semua penumpang mau mengikuti anjuran itu. Banyak yang cuek dan asyik duduk sambil bermain ponsel, tak perduli akan keselamatan diri sendiri.

Sekitar 20 menit berlayar, mulai nampak beberapa pulau yang menjadi bagian dari gugusan Kepulauan Seribu. Selama perjalanan, Global Positioning System (GPS) di ponsel saya masih bisa mendeteksi posisi kapal kayu ini. Sinyal ponsel memang masih cukup kuat di kawasan Kepulauan Seribu, tapi kekuatannya berbeda-beda di tiap pulau.

Ketika tengah mengamati posisi kapal di GPS, tiba-tiba tubuh saya berguncang, ponsel di tangan pun hampir jatuh. Ternyata, gelombang laut mulai kuat. Kapal kayu ini terguncang ke kanan dan kiri. Ya, semakin ke tengah, guncangan gelombang laut memang makin terasa.

Setiap kali kapal terguncang kala membelah gelombang, para penumpang yang duduk di atap kapal berteriak kegirangan. Seolah mereka sedang menaiki salah satu wahana di Dunia Fantasi Ancol. Tak sadar kalau gelombang laut bisa jadi membuat kapal ini terbalik.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id