Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)
Junior college memberi kesempatan untuk siapa saja meraih pendidikan lebih tinggi, mengejar kehidupan lebih baik. Menjadi jaring pengaman bagi mereka yang kesulitan untuk langsung masuk universitas.
Saya yakin ada kesalahan perhitungan atau tabulasi. Saya protes lewat asisten dosen. Saya tunjukkan semua hasil ujian saya, semua tugas-tugas saya. Tidak mungkin saya dapat C. Dan selama saya kuliah, saya hampir tak pernah dapat C. Hanya dua kali saya dapat C, yaitu Akuntansi (malas menghitung) dan English Literature (berat bos!).
Ternyata, dosen tidak mau mengubah nilainya. Tak tahu kenapa.
Saya pun protes sampai ke Dekan sekolah bisnis. Pada akhirnya, "gugatan" saya dipenuhi. Nilai saya diubah jadi A-.
Masalahnya, kalau saya mau lanjut di konsentrasi Advertising, saya akan berhadapan lagi dengan dosen tersebut beberapa kali. Ampun dah. Saya pun memutuskan geser konsentrasi ke International Marketing. Daripada daripada...
***
Tahun 1999 tiba. Waktunya wisuda.
Fakta bahwa saya tidak lulus SMA semakin tidak relevan.
Saya senang sekali setiap kali masuk ke gedung fakultas bisnis. Karena di dinding selalu terpampang nama-nama anak yang masuk "Dean's List" atau "Honor Roll". Nama "Azrul Ananda" selalu ada di situ.
Saya tidak pernah lapor orang tua nilai saya berapa. Orang tua, terus terang, juga tidak pernah tanya nilai saya berapa. Wkwkwk. Yang penting lulus.
Tempat wisuda juga sangat berarti buat saya. Yaitu di Arco Arena, gedung basket kandang tim NBA, Sacramento Kings. Gedung itu sudah diratakan dengan tanah pada 2016, digantikan dengan stadion baru yang lebih megah di pusat kota. Namun, pada 1999, itu merupakan salah satu arena NBA paling kondang.
Baca Juga
Ketika datang untuk wisuda itu, Abah saya agak terkejut. Saya dapat wisuda barisan terdepan, dengan tali tambahan mengalungi leher dan toga saya. Dia tidak menyangka anaknya lulus Cum Laude. Saking bangganya, dia sempat menulis soal itu di koran yang waktu itu dia pimpin.
Sementara ibu saya hanya ngomel melihat dandanan wisuda saya. Di balik toga, saya mengenakan jins bolong-bolong dan sepatu skate butut. Saya jelaskan ke ibu, kalau celana dan sepatu itu punya arti penting. Karena itulah celana dan sepatu yang selalu saya pakai waktu kerja di kafetaria.
Celana dan sepatu yang digunakan untuk mengelap meja, mencuci piring, bahkan pernah ikut lompat masuk kontainer pembuangan sampah untuk mengambil bak sampah yang terjatuh.
Saya juga bilang ke ibu: Masih beruntung saya pakai baju. Itu di sana ada wisudawan yang telanjang di balik toganya!
Dan yang membuat saya super bahagia, di hari wisuda itu orang tua saya datang lengkap. Selain Abah dan Ibu, ada pula John dan Chris Mohn. Abah saya sampai bercanda: "Saya ini bingung, bapak kamu yang asli itu yang mana..."