Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)
Perjalanan SMA saya berakhir pada Juli 1994. Saat pulang ke Indonesia. Dari 80 anak Indonesia yang berangkat jadi siswa pertukaran.
Keluarga kami memang tidak hidup susah. Kerja keras Abah membuat keluarga kami makin tahun makin mampu. Tapi waktu itu masih jauh dari kaya raya. Saya harus berangkat lagi ke Amerika, cari sekolah lagi entah bagaimana caranya.
Ada kenalan Abah yang anaknya sekolah di Sacramento, ibu kota California. Jadi saya disuruh berangkat ke sana. Di usia 17 tahun, tanpa bantuan siapa-siapa, saya harus cari sekolah. Anak kenalan Abah itu hanya menjemput saya dari bandara, membantu menemukan apartemen, setelah itu tidak pernah kelihatan lagi. Wkwkwkwk...
Saya tinggal di apartemen sendirian. Apartemen kosong melompong. Hanya ada matras kasur tanpa sprei. Seminggu kemudian baru saya beli sebuah TV kecil. Belum ada internet, belum ada handphone. Menelepon ke Indonesia mahal luar biasa. Karena belum punya teman, saya sering sekali ngobrol dengan diri sendiri, wkwkwk...
Saya datang ke departemen pendidikan di Sacramento, minta arahan harus bagaimana untuk melanjutkan sekolah. Tentu saja jawabannya sulit. Saya bukan penduduk California, apalagi warga negara, dan tidak punya orang tua atau wali di sana. Jadi saya tidak akan bisa menikmati fasilitas SMA gratis di sekolah negeri (public school).
Saya juga tidak berhasil menemukan SMA swasta yang mau menerima siswa internasional. Apalagi saya juga masih usia 17 tahun, tanpa wali dan orang tua. Sekali lagi, waktu itu belum ada internet. Cari sekolah harus lewat informasi manual, dan harus datangi satu-satu.
Tapi ini hebatnya departemen pendidikan di Sacramento itu. Mereka tidak membiarkan saya begitu saja. Mereka mencarikan jalan keluar. Karena ada kebijakan di sana, anak tidak boleh kehilangan hak mendapatkan pendidikan. Walau saya bukan warga negara, mereka tetap menggunakan prinsip itu untuk membantu sebisa mungkin.
Melihat nilai saya waktu di Kansas bagus, mereka meminta saya mengambil tes assessment lagi. Kali ini tingkat universitas. Ternyata saya lolos lagi. Dianggap sudah layak kuliah! Kemampuan bahasa Inggris saya juga dianggap sudah cukup (saya sangat terima kasih kepada seluruh ajaran John dan keluarga, serta semua guru dan teman-teman di Ellinwood!).
Muncul gagasan supaya saya tidak usah SMA lagi. Langsung kuliah saja. Dan institusi perguruan tinggi akan lebih mudah mengeluarkan visa untuk siswa internasional.
Kuliah bukan berarti langsung ke university empat tahun. Saya disarankan masuk junior college (juco, baca: juko) dulu, alias kampus dua tahun. Di sana salah satunya ada Sacramento City College. Syarat masuknya lebih mudah, biayanya terjangkau, dan bisa menjadi jembatan saya sebelum kuliah di universitas yang proper.
Secara timing kata mereka juga pas. Waktu itu sudah makin dekat dengan akhir tahun. Kalau mau masuk SMA, andai ada, sudah tidak mungkin. Kalau saya mau menunggu sampai tahun ajaran berikutnya (pertengahan 1995), saya dengan mudah bisa masuk juco.
Baca Juga
Karena saat momen itu tiba, saya sudah akan berusia 18 tahun. Dan juco tidak boleh menolak saya lagi, walau saya tidak pernah lulus SMA.
Sambil menunggu, saya disarankan sekolah bahasa Inggris dulu beberapa bulan. Selain untuk mendapatkan visa pelajar agar bisa tetap di sana, juga untuk semakin mematangkan kemampuan bahasa Inggris saya, agar benar-benar siap untuk tingkat pendidikan tinggi.
***
Di Amerika, junior college (juco) memang ada banyak tersebar di seluruh penjuru. Tujuan utamanya untuk menyediakan pendidikan tinggi bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat. Memberi mereka kesempatan untuk meraih kehidupan lebih baik.
Juco disediakan dengan biaya sangat murah. Termasuk untuk murid internasional. Kebijakan penerimaan mahasiswanya juga "open-door". Terbuka selebar-lebarnya, semudah-mudahnya, untuk sebanyak mungkin orang.