Catatan Dahlan Iskan

Taruna Kelapa

Apa boleh buat: Bank Indonesia pun harus mendatangkan cabai dari Probolinggo, Jawa Timur. Dua ton. Dikirim ke Manado: lagi ada ''krisis'' cabai di sana.

Taruna Kelapa
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut Joko Supratikto saat menunjukkan cabai yang didatangkan dari Probolinggo.--

Dulu, kali pertama membaca tulisan itu dari jendela pesawat yang sedang taxi menuju apron saya pikir itu semacam ucapan selamat datang dalam bahasa Manado: Si Tou Timou Tumou Tou. Ternyata itulah makna gotong royong dalam bahasa lokal.

"Apakah selama 10 tahun terakhir jumlah pohon kelapa di Sulut bertambah?" tanya saya.

"Justru terus berkurang, Pak," jawab para eksporter itu.

Saya tahu penyebabnya. Sejak perkebunan sawit mewabah di Indonesia, produk nyiur kurang lagi melambai. Harga kopra jatuh. Pun harga produk hilirisasi kelapa. Andalan Sulut, Gorontalo, dan Palu pun tidak pernah bisa ereksi lagi.

Sampailah pada tiga puluh tahun kemudian, ketika ekonomi Tiongkok meraksasa. Kebutuhan apa pun meningkat drastis di sana. Termasuk kebutuhan kelapa: mulai arang tempurung, sabut, tepung, santan, sampai air kelapanya. Tidak ada yang tersisa.

Harusnya Sulut sangat sejahtera. Tapi semangat menanam dan memelihara kelapa sudah telanjur hilang. Pohon yang tersisa sudah menua. Pohon yang baru belum ada. Menyesal. Lemes. Sawit memang masih terus berkibar tapi ternyata tidak sampai benar-benar mematikan kelapa. Sawit hanya sempat membuat kelapa klepek-klepek tapi ternyata akhirnya ada hari kebangkitannya: ekspor ke Tiongkok. Hampir tanpa batas atas.

Hari kebangkitan itu rasanya bukan sementara. Bisa sangat panjang –kecuali Presiden Donald Trump berhasil mencekik ekonomi Tiongkok.

Sebaiknya Sulut bangkit lebih dulu sebelum Tiongkok merasa sulit dapat produk kelapa.

"Sekarang ini sudah banyak perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Sulut," ujar salah satu eksporter itu. Mereka berburu kelapa. Berarti eksporter Sulut harus rebutan bahan baku dengan pendatang dari utara yang lebih banyak punya modal kerja.

Tidak usah takut. Bersaing adalah darah daging pengusaha. Hanya politisi dan penguasa yang takut pada pesaing baru.

Yang perlu ditakutkan: jangan-jangan mereka datang tidak hanya berdagang. Mereka berdagang sambil melakukan penelitian: bagaimana bisa menanam kelapa di suhu subtropics di bagian selatan wilayahnya –termasuk pulau Hainan.

"Sekarang ini, sejak kedatangan mereka, kelapa bulat pun laku diekspor," ujar pengusaha itu.

Itu ancaman baru lagi. Kalau sampai terjadi ekspor besar-besaran kelapa bulat industri pengolahan kelapa di dalam negeri bisa mati! Dan itu juga akan dan sedang terjadi di Gorontalo.

Lalu kalau sampai Tiongkok buka kebun kelapa besar-besaran mereka bukan saja bisa meningkatkan produksi. Mereka juga bisa membuat standar: semua kelapa harus punya bentuk, ukuran dan rasa yang sama. Itulah dasar industrialisasi kelapa. Agar bisa diciptakan mesin pengupas yang sangat modern. Efisien. Kunci industri adalah efisiensi.

Mumpung presidennya orang Manado: jangan hanya bikin SMA Taruna Nusantara di sana. Juga harus tercipta jutaan taruna kelapa di bumi Kawanua. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait