Hadir di Acara BI Sulut, Dahlan Iskan Dorong Pengusaha Lokal Fokus Tingkatkan Kapasitas Produksi
Founder Disway, Dahlan Iskan kembali mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman seputar dunia usaha oleh Bank Indonesia.
Sebelum sesi Dahlan Iskan, forum tersebut diawali dengan pemaparan kondisi perekonomian Sulawesi Utara oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Utara Joko Supratikto.
Joko menyampaikan bahwa ekonomi Sulawesi Utara masih menunjukkan ketahanan. Pada Triwulan II 2026, ekonomi Sulut tumbuh 5,42 persen secara tahunan (yoy).
Dari sisi pembiayaan, intermediasi perbankan juga tumbuh positif. Kredit perbankan meningkat 3,08 persen (yoy), sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 8,08 persen (yoy) hingga Juli 2026. Kualitas kredit juga masih terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,77 persen.
Meski demikian, Joko mengingatkan adanya tekanan dari sisi harga. Inflasi kumulatif Sulawesi Utara hingga Agustus 2026 telah mencapai 3,68 persen (ytd).
Kondisi tersebut membuat penguatan sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk menjaga pasokan dan kelancaran distribusi. Sasaran inflasi yang harus dijaga berada dalam rentang 2,5 persen ± 1 persen.
Dari hasil survei BI, konsumsi masyarakat Kota Manado masih menunjukkan kekuatan yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Harga menunjukkan optimisme bahwa perkembangan harga tetap terkendali hingga akhir tahun.
Dari sektor dunia usaha, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) juga menunjukkan peningkatan signifikan pada Saldo Bersih Tertimbang pada Triwulan III 2026. Indikator tersebut menjadi sinyal adanya ekspansi aktivitas usaha.
Joko menegaskan data yang diperoleh dari para responden survei BI menjadi salah satu dasar dalam menyusun asesmen dan rekomendasi kebijakan bagi daerah.
BCA Bicara Ekonomi Global dan Peluang Sulut
Sebelum memasuki sesi Dahlan Iskan, forum tersebut juga menghadirkan Chief Economist BCA Group David Sumual sebagai narasumber pada Sesi I.
David membahas arah perekonomian global dan nasional periode 2026–2027 serta dampaknya terhadap Kawasan Timur Indonesia.
Baca Juga
Ia menyoroti sejumlah faktor yang masih membayangi perekonomian global, mulai dari dinamika geopolitik, arah kebijakan suku bunga, hingga perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Di tengah berbagai dinamika tersebut, Sulawesi Utara dinilai memiliki sejumlah potensi yang dapat menjadi penggerak ekonomi. Di antaranya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, energi baru terbarukan melalui PLTP Lahendong, serta Kawasan Industri Mongondow.
Sektor pariwisata juga menjadi salah satu peluang yang dibahas. Perkembangan konektivitas melalui penerbangan langsung dari Asia Timur serta semakin luasnya kerja sama internasional dinilai membuka peluang investasi pada sektor manufaktur, pengolahan komoditas, dan infrastruktur.(*)