Gagas PLTS Tanpa Modal Besar, Mahasiswa Kembar Ini Sabet Penghargaan
Institut Teknologi PLN (ITPLN) mencatat prestasi melalui mahasiswa kembar, Siluh Bintang Eka Jayanti dan Siluh Bintang Dwi Jayanti, yang meraih Juara 2 Problem Solving Essay Competition Greenbase IPB 2026.
Dalam proses penyusunan esai, keduanya terlebih dahulu memetakan case study untuk menemukan akar persoalan. Setelah itu, mereka melakukan brainstorming untuk mencari alternatif solusi sebelum memperkuat gagasan dengan berbagai referensi, termasuk jurnal ilmiah.
Menariknya, proses tersebut sempat mempertemukan dua gagasan berbeda. Namun, perbedaan itu justru menghasilkan konsep yang kemudian mereka satukan menjadi solusi dalam esai.
“Kami awalnya punya dua ide yang berbeda. Kemudian kami saling memberikan pendapat dan menggabungkan bagian-bagian yang dianggap paling relevan. Dari situ akhirnya terbentuk solusi yang kami tuangkan dalam esai,” katanya.
Tantangan terbesar, menurut mereka, justru muncul ketika harus menentukan gagasan yang benar-benar mampu menjawab persoalan dalam case study. Setelah gagasan terbentuk, tantangan berikutnya adalah mempertahankannya dalam sesi presentasi dan tanya jawab bersama dewan juri.
Keduanya mempersiapkan diri dengan memprediksi pertanyaan yang mungkin muncul dan menguasai substansi esai. Salah satu pertanyaan yang cukup menantang berkaitan dengan potensi limbah PLTS dan daya saing biaya Solar Leasing dibandingkan biaya listrik yang dibayarkan konsumen kepada PLN.
Mereka menjawab persoalan tersebut dengan menekankan perlunya regulasi, termasuk kesiapan pengelolaan limbah panel surya sebelum penerapan dilakukan dalam skala luas. Sementara dari sisi biaya, skema sewa dirancang agar tetap kompetitif dan memberikan peluang penghematan bagi rumah tangga.
Dwi dan Eka akhirnya harus bersaing dengan sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang masuk sebagai finalis, termasuk mahasiswa dari IPB University dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketika nama mereka diumumkan sebagai Juara 2 yang membuat mereka terkejut sekaligus bangga.
“Kami sangat terkejut dan bangga karena sebenarnya tidak menyangka bisa memenangkan kompetisi ini. Tetapi kami tetap percaya diri setelah melakukan final pitching dan berusaha menyampaikan gagasan sebaik mungkin,” kata Dwi.
Keduanya juga membawa pengalaman berbeda sebelum mengikuti kompetisi. Dwi sebelumnya pernah meraih Silver Medal dalam ajang Sinec melalui karya mengenai energi terbarukan, sedangkan Eka memiliki pengalaman dalam sejumlah kompetisi poster dan infografis.
Pengalaman tersebut membantu mereka dalam melakukan brainstorming, menyusun gagasan secara sistematis, menulis esai, hingga mempresentasikan solusi di hadapan juri.
Baca Juga
Setelah meraih Juara 2, Eka dan Dwi berharap konsep SOLARIS Tabanan tidak berhenti sebagai karya kompetisi. Mereka ingin gagasan tersebut dikembangkan melalui penelitian lebih lanjut, terutama terkait aspek teknis, keekonomian, pengelolaan limbah, dan regulasi.
“Kami sangat ingin gagasan ini bisa diimplementasikan secara nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Tentu masih diperlukan penelitian lebih lanjut dan keterlibatan berbagai pihak agar solusi yang dirancang benar-benar bisa diterapkan,” ucap Dwi. (*)