Gagas PLTS Tanpa Modal Besar, Mahasiswa Kembar Ini Sabet Penghargaan
Institut Teknologi PLN (ITPLN) mencatat prestasi melalui mahasiswa kembar, Siluh Bintang Eka Jayanti dan Siluh Bintang Dwi Jayanti, yang meraih Juara 2 Problem Solving Essay Competition Greenbase IPB 2026.
fin.co.id – Institut Teknologi PLN (ITPLN) mencatat prestasi melalui mahasiswa kembar, Siluh Bintang Eka Jayanti dan Siluh Bintang Dwi Jayanti, yang meraih Juara 2 Problem Solving Essay Competition Greenbase IPB 2026. Keduanya mengusung gagasan percepatan adopsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Indonesia melalui integrasi Solar Leasing dan sistem energi cerdas berbasis komunitas.
Gagasan tersebut dituangkan dalam esai berjudul “SOLARIS Tabanan: Integrasi Solar Leasing dan Smart Energy System Berbasis Komunitas Sebagai Model Percepatan Adopsi PLTS Atap yang Inklusif, Berkeadilan, dan Berkelanjutan di Indonesia.”
Siluh Bintang Eka Jayanti mengatakan ketertarikannya mengikuti kompetisi bermula dari tema case study yang diberikan panitia, yakni strategi mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia. Tema itu dinilai relevan dengan bidang yang mereka pelajari di Program Studi Teknik Sistem Energi ITPLN, termasuk mengenai teknologi PLTS.
“Kami tertarik karena tema yang diberikan sangat sesuai dengan jurusan kami, terutama karena kami juga mempelajari PLTS. Jadi, kami ingin mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang sudah kami pelajari melalui ide yang bisa menjawab persoalan tersebut,” ujar Eka saat berbincang, Kamis, 17 September 2026.
Sejak awal, keduanya mengaku tidak memasang target khusus untuk menjadi juara. Fokus mereka adalah menyusun gagasan yang relevan dan menyampaikannya dengan baik di hadapan dewan juri.
“Kami sebenarnya tidak terlalu fokus harus juara. Yang penting bagi kami adalah memberikan ide dan inovasi terbaik serta mendapatkan pengalaman. Ternyata dari proses presentasi dan ide yang kami bawa, kami bisa memperoleh Juara 2,” kata Eka.
Dalam esainya, keduanya menyoroti masih besarnya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, sementara potensi energi surya nasional relatif besar tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurut mereka, salah satu hambatan dalam memperluas penggunaan PLTS Atap adalah tingginya investasi awal. Selain itu, terdapat persoalan akses infrastruktur dan edukasi masyarakat mengenai energi terbarukan.
Dari persoalan tersebut, Eka dan Dwi menawarkan SOLARIS Tabanan sebagai model yang menggabungkan Solar Leasing dengan Smart Energy System berbasis komunitas.
Dengan skema Solar Leasing, masyarakat tidak harus menanggung biaya investasi awal pemasangan PLTS yang besar. Sistem tersebut memungkinkan konsumen rumah tangga menggunakan PLTS dengan mekanisme sewa kepada pihak ketiga dan membayar biaya secara berkala. Pihak penyedia juga bertanggung jawab terhadap pemeliharaan sistem.
Baca Juga
“Konsepnya adalah mengatasi hambatan biaya investasi awal. Masyarakat dapat menggunakan PLTS melalui sistem sewa, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya pemasangan yang besar di awal,” ucap Dwi menambahkan.
Sistem itu kemudian dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) dan sejumlah sensor untuk memantau kondisi PLTS secara real time. Informasi pemantauan dapat diakses melalui Dashboard SOLARIS menggunakan perangkat seperti telepon pintar.
Menurut Dwi, sistem pemantauan tersebut memungkinkan gangguan atau kerusakan pada perangkat terdeteksi lebih awal sehingga keandalan PLTS dapat dijaga.
Agar model tersebut tidak hanya berorientasi pada aspek teknologi, keduanya mengusulkan pengelolaan berbasis komunitas melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Skema ini diharapkan dapat mempertemukan kepentingan masyarakat sebagai pengguna, perusahaan sebagai penyedia layanan, dan pemerintah desa sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan.
“Kami ingin sistem ini tidak hanya menyelesaikan persoalan akses energi, tetapi juga berkelanjutan. Masyarakat mendapatkan akses PLTS yang lebih terjangkau, perusahaan memiliki model pendapatan dari layanan sewa, dan sistemnya dapat direplikasi di wilayah lain,” kata Dwi.