Purbaya DJuamputh
Pakai cara apa pun toh hasilnya sama: diberhentikan. Lebih baik cepat diberitahu daripada kepikiran berlama-lama.
Satu-satunya yang bisa ditafsirkan adalah suara background musik di balik medsos itu: lagu Wasap Mamen dari penyanyi Djuamputh dan Andi Mbendol.
Lagu itu memang lagi hype belakangan ini --meski saya sendiri baru tahu setelah dijadikan ilustrasi postingan Purbaya. Saya pun tidak tahu siapa DJuamputh dan Andi Mbendol.
DJuamput sangat mirip dengan bunyi sumpah serapahnya Arek Suroboyo. Mbendol juga dekat dengan istilah Jawa ”mbendol mburi”: kelihatannya gampang di awal ternyata penuh persoalan di bagian akhirnya.
Nama asli Andi Mbendol adalah Rizky Andi Putra. Anak Yogyakarta ini memang kreatif. Lagu ciptaannya banyak, umumnya remix koplo Jawa. Misalnya Tresno Tekane Mati, Ayang Ayang, Minggato, Lalekno Aku, dan Maturnuwun.
--
Dari background lagu Wasap Mamen tidak bisa diterjemahkan apa maksudnya. Ups... Ada. Sedikit. Saya cari teks lagu DJuamput itu: "Jane pengen sambat karo kancaku, tak rewangi mburuh nganti raono wektu”.
Artinya dalam. Anda sudah tahu: "Sebenarnya ingin curhat kepada temanku, saya belain menjadi buruh sampai tidak punya waktu".
Teks berikutnya dari lagu itu: "Wes rausah kakean protes, maju terus”. Artinya: Sudahlah tidak perlu terlalu banyak protes, maju terus".
Kalau itu cermin sikap pribadi Purbaya, maka berarti Purbaya sudah bisa menerima pemberhentiannnya itu. Tapi apa makna ”maju terus”. Tidak ada yang tahu.
Kemunculan kedua Purbaya terjadi keesokan harinya: di acara serah terima jabatan. Purbaya tidak mau membacakan teks pidato yang sudah disiapkan --tapi itu sudah jadi kebiasaan lamanya: tidak bermakna apa-apa. Ia hanya pidato singkat mengucapkan terima kasih. Selebihnya diserahkan sepenuhnya kepada menkeu yang baru: Prof Dr Suahasil yang selama ini menjadi wakilnya.
Baca Juga
Meski tidak tahu arahnya postingan satu-satunya fanbase Purbaya "sudah siap belum?" itu disambut hangat. Hanya dalam beberapa jam sudah dibaca oleh 4 juta orang. Yang berkomentar pun hampir 20.000 orang. Itu mencerminkan daya tarik Purbaya.
Di mata publik Purbaya tetaplah orang yang jujur, bisa dipercaya, bersih, tidak korupsi dan tidak hedon. Pun istri dan keluarganya. Maka tidak ada aib apa-apa yang harus dipikul Purbaya meski pun ia diberhentikan mendadak.
Apalagi kalau penyebab pencopotan itu ternyata bukan pertumbuhan ekonomi dan bukan pula Danantara: melainkan karena kalah adu kuat dengan dua dirjennya: dirjen pajak dan dirjen bea cukai. Kalau itu yang terjadi lepas siapa yang salah-benar, Purbaya kian dapat nama. (Dahlan Iskan).
Berita Terkait
Purbaya DJuamputh
Teknokrat Plus