Catatan Dahlan Iskan

Kabawa Hente

Saya berlinang membaca WA-WA kekhawatiran Evi yang tidak dibalas suami. Evi, hari Senin malam itu, tidak tidur semalam suntuk

Kabawa Hente

Evi kini berumur 30 tahun. Suaminyi 49 tahun. Mereka menikah tujuh tahun lalu. Sampai sekarang masih tinggal di rumah kontrakan.

Menurut Evi suaminyi seorang pekerja keras. Juga seorang humoris. Sangat baik hati. Kini Evi tidak tahu harus bagaimana. Setiap malam para tetangga Evi kumpul di rumahnyi: berdoa untuk keselamatan Heriyanto dan semua penumpang long boat Arupadhatu 1: lima wartawan, dua kru kapal, dan satu Heriyanto.

Lima wartawan itu agak mendadak mencarter long boat milik kades Sukajadi, Sandi Wyasa. Heriyanto pun secara mendadak pamit ke istri. Pukul 14.16, ketika suami mulai melepas tali kapal, Evi kirim WA kepadanya: "Hati-hati ya ayah...".

Ketika suami sudah lebih satu jam berada di laut Evi kirim WA: Ibu nonton bola ewes geh tinggalen yah (15.34). Rupanya Evi penggemar bola. Kalau di Surabaya dia disebut Bonita. Sore itu pertandingan sepak bola tarkam --antar kampung. Evi ingin melihat tim desanya berlaga.

WA Evi itu rupanya tidak segera terbaca oleh Heriyanto. Mungkin sedang sibuk melayani lima wartawan. Baru pukul 16.30 suami membalas. Intinya ia melarang Evi nonton bola. "Udh di rumah aja," tulisnya.

Kebetulan Evi telat berkumpul sesama ''Bonita'' Sukajadi. Dia ditinggal. Evi balik ke rumah. Tidak jadi nonton bola.

Setiba di rumah, Evi buka HP. Dia baca pesan suami yang melarang nonton bola. Maka Evi langsung jawab: ''iya, ini di rumah''.

WA itu adalah kontak terakhir Heriyanto ke Evi. Dilihat dari jamnya berarti Heriyanto sudah sampai di tujuan: lokasi terdekat dengan erupsi Anak Krakatau.

Setelah itu Heriyanto memang masih kirim satu WA ke istri tapi tanpa kata-kata. Hanya kirim foto erupsi Anak Krakatau. Satu foto. Hanya satu foto. Tanpa apa-apa. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait