Catatan Dahlan Iskan

Eksklusif Mati

Misteri hilangnya lima wartawan, satu pemandu, dan dua kru long boat di sekitar Anak Krakatau belum juga terkuak.

Eksklusif Mati
Erupsi Gunung Anak Krakatau

Pak Sandi memiliki dua long boat. Dua-duanya bermesin ganda: Yamaha 40 PK. Kini satu long boat-nya terancam hilang.

"Diasuransikan?" tanya saya.

"Tidak," jawabnya.

"Berapa harga satu long boat berikut mesinnya?"

"Waktu itu saya beli satu long boat Rp 200 juta," jawabnya.

"Kalau misalnya dibeli dengan uang bank apakah hasilnya bisa untuk bayar bunga dan cicilan?"

"Tidak bisa," katanya.

Ia punya long boat karena dulunya punya perusahaan travel. Kini perusahaan itu sudah tidak ada lagi. "Sudah bangkrut. Kalah dengan Traveloka", katanya.

Di desa Sukajadi banyak yang punya long boat seperti Pak Sandi. Sekitar 20 orang. Masih lebih banyak lagi yang punya speed boat.

Apakah ada wisatawan ke Krakatau naik speed boat?

"Tidak ada. Speed boat hanya untuk wisata banana boat," katanya.

Anda sudah tahu banana boat. Yakni tabung plastik bersayap yang bentuk dan warnanya seperti pisang –pun bentuk dan warna sayapnya. Wisatawan naik mengangkangi banana itu sambil tangan berpegangan kuat. Banana itu lantas ditarik oleh speed boat dengan kecepatan tinggi: horeeee!

Tidak semua yang berwisata pakai long boat bertujuan ke Anak Krakatau. Ada juga yang tujuannya ke Ujung Kulon. Ke Anak Krakatau perlu dua jam perjalanan. Ke Ujung Kulon tiga jam.

Kalau saja lima wartawan itu tidak ditemukan, maka foto hasil jepretan Heriyanto tadi adalah satu-satunya foto yang bisa dilihat dari misi liputan ini. Selebihnya tentu masih tersimpan di masing-masing kamera wartawan. Tentu mereka punya hasil jepretan yang bagus-bagus –meski jepretan pemandu Heriyanto tadi juga sudah sangat bagus.

Saya tidak tahu apakah lima wartawan tersebut berangkat atas inisiatif sendiri atau tugas dari kantor masing-masing. Kini sangat jarang ada media yang mengirim wartawan untuk mendapatkan berita dan foto yang eksklusif. Media umumnya sedang melakukan efisiensi yang lebih keras dari efisiensinya Presiden Prabowo Subianto.

Berita Terkait