Catatan Dahlan Iskan

Secukupnya Selamanya

Kalimat itu saya comot dari Muktamar Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, bulan lalu: jadi pengurus itu secukupnya, jadi Nahdliyin itu selamanya.

Secukupnya Selamanya
Ketua Umum PBNU Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) berpamitan kepada pengurus wilayah NU Jawa Timur, Selasa, 8 September 2026.--

Demikian juga soal gerakan demokrasi, keadilan dan tegaknya hukum: serahkan ke Gus Rozin dari Pati. Berikan keleluasaan kepada Gus Rozin untuk menjadi pembawa bendera NU di bidang itu. NU, lewat Gus Dur, boleh dibilang pelopor di gerakan demokrasi, persamaan hak, penegakan keadilan, dan pembela masyarakat tertindas. NU diharapkan harus tetap menjadi pembawa bendera di bidang ini. Ketua umum bisa menyerahkan bendera ini ke Gus Rozin yang di muktamar kemarin juga muncul sebagai salah satu calon ketua umum.

Tentu jangan lupa: NU memiliki teknokrat hebat di bidang pendidikan. Yakni Prof Dr Mohammad Nuh. Beliau pernah menjadi menteri pendidikan yang sukses. Beliaulah yang memimpin Muktamar di Lampung dan di Tambakberas.

Pak Nuh mampu mengatur pendidikan Indonesia --harusnya mampu memajukan pendidikan di lingkungan NU. Apalagi Pak Nuh termasuk teknokrat yang percaya bahwa cara pengentasan kemiskinan terbaik adalah lewat pendidikan.

Tentu bukan sembarang pendidikan. Yakni pendidikan yang bisa membawa kemajuan. NU menghadapi persoalan besar di bidang pendidikan: jumlah santri terus-menerus mengalami penurunan. Lembaga-lembaga pendidikan NU tidak bisa tenang-tenang terus.

Menjadi pengurus itu memang secukupnya. Tapi waktu mereka tidak akan cukup untuk mengurus begitu banyak agenda.

Menjadi presiden juga secukupnya: lalu bagaimana bisa cukup waktu, pikiran dan tenaga untuk mengurus semuanya.

Lebih enak jadi warga negara selamanya.(Dahlan Iskan)

Berita Terkait