Catatan Dahlan Iskan . 08/09/2026, 05:44 WIB
Sebenarnya banyak contoh koperasi yang bisa sukses. Yang paling hebat adalah koperasi Keling Kumang yang di Kalbar itu. Koperasinya suku Dayak di Sekadau, Sintang. Besaran skalanya sudah tiga triliun rupiah.
Tapi ya hanya satu itu. Atau satu dua lagi lainnya di tempat lain di Indonesia. Di Jatim sendiri pernah ada koperasi sangat besar. Koperasi susu milik peternak sapi perah di Pujon, Malang. Lalu ada koperasi wanita yang sangat mulia. Tapi yang di Pujon sudah jarang disebut lagi. Yang "wanita" tokoh utamanya tergiur ke partai politik. Selesai.
Bagus. Bisa teruwujud. Tapi jatuh bangun. Belum bisa mewarnai perekonomian nasional yang langgeng. Semua itu mutiara di Khatulistiwa. Tapi mutiara yang bersinar hanya beberapa di wilayah.
Ada perusuh yang membanggakan keberhasilan koperasi di Belanda, Swedia, dan bahkan Singapura. Itu benar. Sangat membanggakan. Sering jadi contoh untuk mengolok-olok pemerintah yang dianggap kurang memperhatikan koperasi di Indonesia.
Anggapan kita seolah di sana koperasi sudah sangat berhasil. Sudah menjadi gerakan nasional. Jarang yang kritis bahwa sebesar dan sesukses mereka tetap saja belum sampai bisa membuat sistem ekonomi di sana menjadi sistem koperasi. Sistem ekonomi negaranya tetap saja kapitalis.
KUD juga pernah sukses –sebagai lambang turun tangannya negara untuk menggalakkan koperasi. Dengan sangat serius. Presiden Soeharto sendiri yang turun tangan. Dibangunnya di setiap kecamatan merata ke seluruh Indonesia. Ternyata juga tidak berkelanjutan. Maka, mungkin saja, KDMP adalah buldoser terakhir Untuk mewujudkan sistem koperasi. Saya sebut buldoser karena dipaksakan dari atas, dalam skala yang tidak terpermana, dan menghabiskan anggaran yang tidak terkirakan. Bukan pula di setiap kecamatan melainkan di setiap desa.
Kalau KDMP pun kelak ternyata gagal, makan cara apa lagi yang akan dipakai untuk menjalankan ekonomi nasional secara koperasi sebagai pelaksanaan pasal 33 UUD 1945.
Saya selalu tertarik pada pikiran Dr Agus Pakpahan yang kini menjadi rektor Universitas Koperasi Indonesia. "Sampai hari ini kita belum punya kurikulum pelajaran koperasi yang sebenarnya," ujarnya. Mata pelajaran koperasi yang diajarkan selama ini, katanya, bukan ilmu koperasi dimaksud.
KDMP adalah taruhan terakhir bagi uji coba koperasi. Taruhan yang amat sangat luar biasa mahal. Kalau gagal berarti kita harus ikut Agus Pakpahan: menyusun kurikulum dan silabus ilmu koperasi, mengajarkannya dari TK, SD, SMP, SMA, universitas. Setelah semua orang Indonesia tahu apa itu koperasi barulah dimulai membangun koperasi: 25 tahun lagi.
Separo waktu pun habis untuk membahas koperasi. "Ini pertemuan terbaik yang pernah saya ikuti," ujar alumnus Geologi ITB yang kini berusia 85 tahun Sujatmiko. Yang terlibat pembahasan bicaranya singkat dan padat. Fokus. Berhasil tidak ada yang ngelantur. Tidak ada yang bicara nonsense.
Saya tidak berani kembali ke bawah pohon durian: tidak sampai hati melihat ratusan pentil segar itu dirontokkan. (Dahlan Iskan)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id