News . 07/09/2026, 10:50 WIB

Asal-usul Gunung Anak Krakatau dan Proses Terbentuknya

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

Karena berada di tengah laut, tubuh Anak Krakatau juga terus berhadapan dengan gelombang dan arus. Bagian yang tersusun dari material lepas lebih mudah terkikis, sementara lapisan lava yang telah mengeras cenderung lebih kuat.

Keruntuhan Besar pada 2018

Salah satu perubahan terbesar terjadi pada 22 Desember 2018. Sebagian lereng barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut ketika aktivitas vulkanik sedang berlangsung.

Longsoran tersebut memindahkan material dalam jumlah besar dan mendorong air laut sehingga menimbulkan tsunami di Selat Sunda. Gelombang menerjang sebagian pesisir Banten dan Lampung serta menyebabkan lebih dari 400 orang meninggal.

Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Communications menemukan endapan longsoran besar di dasar laut sebelah barat daya Anak Krakatau. Data batimetri dan pencitraan seismik mendukung kesimpulan bahwa tsunami dipicu oleh keruntuhan lateral tubuh gunung.

Peristiwa itu memperlihatkan bahwa tsunami tidak selalu didahului gempa tektonik kuat. Perpindahan massa yang terjadi secara mendadak, termasuk longsornya lereng gunung api ke laut, juga dapat menghasilkan gelombang berbahaya.

Setelah keruntuhan tersebut, bentuk Anak Krakatau berubah drastis dan ketinggiannya berkurang. Namun, erupsi berikutnya kembali menumpuk material dan membangun tubuh gunung.

Anak Krakatau Kembali Erupsi pada September 2026

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada 2026. Pada 2 Juli 2026, tingkat aktivitasnya dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Rangkaian erupsi menerus kemudian teramati mulai Jumat, 4 September 2026, sekitar pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh, dentuman, pendaran merah, dan fenomena air mancur lava atau lava fountain.

Dalam periode pengamatan selama enam jam pada 5 September 2026, peralatan pemantauan mencatat getaran erupsi menerus. Situasi ini memperlihatkan bahwa material magma terus bergerak dan dikeluarkan dari kawah aktif.

Gunung Anak Krakatau berada cukup jauh dari pusat permukiman besar. Namun, abu vulkaniknya dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer. Ketinggian kolom erupsi dan kondisi atmosfer menentukan arah serta jarak penyebaran material tersebut.

Abu Vulkanik Menyebar ke Sejumlah Wilayah

Analisis citra satelit BMKG pada 6 September 2026 pukul 08.00 WIB mengidentifikasi dua kelompok utama persebaran abu vulkanik. Sebarannya melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, perairan Selat Sunda, dan sebagian Samudra Hindia.

Pada lapisan atmosfer hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki atau 6,1 kilometer, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran tersebut mencakup sebagian Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan perairan di sekitarnya.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id