Cari Tahu Yuk! Mengapa Kenangan Masa SMA Sulit Dilupakan hingga Dewasa
Kenangan masa sekolah menengah atas atau SMA sering kali memiliki tempat khusus dalam ingatan seseorang. Meskipun puluhan tahun telah berlalu, banyak orang
fin.co.id - Kenangan masa sekolah menengah atas atau SMA sering kali memiliki tempat khusus dalam ingatan seseorang. Meskipun puluhan tahun telah berlalu, banyak orang masih mampu mengingat nama teman yang paling populer, suasana kelas, kelompok pertemanan, guru tertentu, cinta pertama, hingga pengalaman tidak menyenangkan seperti penolakan dan perundungan.
Menariknya, seseorang mungkin sudah lupa terhadap materi pelajaran yang pernah dipelajari, tetapi masih dapat mengingat dengan jelas siapa yang paling berpengaruh di lingkungan sekolahnya. Kenangan itu bahkan bisa kembali muncul ketika menghadiri reuni, melihat foto lama, mendengar lagu tertentu, atau bertemu seseorang yang memiliki kemiripan dengan teman semasa SMA.
Kuatnya ingatan tersebut bukan sekadar akibat nostalgia. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas, hubungan sosial, serta cara seseorang memandang dirinya sendiri. Pengalaman pada masa SMA akhirnya menjadi salah satu kerangka yang digunakan otak untuk memahami interaksi sosial ketika seseorang telah dewasa.
Masa Remaja Merupakan Periode Pembentukan Identitas
Masa SMA umumnya berlangsung ketika seseorang berada pada fase remaja, yaitu periode peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada tahap ini, perubahan biologis, psikologis, dan sosial berlangsung secara bersamaan.
Remaja mulai mempertanyakan siapa dirinya, bagaimana orang lain memandang dirinya, dan kelompok sosial seperti apa yang dapat menerimanya. Penilaian dari teman sebaya pun menjadi sangat penting karena remaja secara perlahan mulai melepaskan ketergantungan emosional terhadap keluarga.
Psikoanalis Erik Erikson menjelaskan bahwa remaja menghadapi proses pencarian identitas di tengah berbagai perubahan dan ketidakpastian. Kelompok pertemanan membantu mereka menemukan rasa aman sekaligus membentuk identitas sosial.
Namun, pembentukan kelompok juga dapat menghasilkan batas yang kaku. Remaja bisa dikelompokkan sebagai anak populer, kutu buku, pendiam, pemberontak, atlet, atau bahkan dianggap tidak memiliki kelompok. Label sosial seperti itu dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Karena identitas sedang dibentuk, pujian maupun penolakan yang terjadi pada masa tersebut dapat meninggalkan dampak emosional yang lebih kuat dibandingkan pengalaman serupa ketika seseorang telah dewasa.
Popularitas dan Penerimaan Sosial Ternyata Berbeda
Popularitas sering dianggap sama dengan disukai banyak orang. Dalam penelitian psikologi sosial, keduanya ternyata merupakan konsep yang berbeda.
Psikolog John Coie dan sejumlah rekannya pernah meminta anak-anak menyebutkan teman yang paling mereka sukai dan paling tidak mereka sukai. Dari penelitian tersebut, anak-anak dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori sosial, yaitu diterima, ditolak, kontroversial, diabaikan, dan rata-rata.
Baca Juga
Anak yang diterima biasanya dikenal baik, mendukung, dan menyenangkan. Sementara itu, anak yang dianggap populer belum tentu benar-benar disukai. Sebagian bisa memperoleh status tinggi karena berpenampilan menarik, pandai bergaul, memiliki kemampuan olahraga, atau dianggap lebih berani melanggar aturan.
Dalam lingkungan SMA, perilaku yang terlihat dewasa sebelum waktunya juga dapat meningkatkan status sosial untuk sementara. Remaja yang mulai berpacaran, merokok, minum alkohol, atau berani menentang aturan terkadang dianggap lebih keren oleh kelompoknya.
Namun, popularitas berbasis status seperti ini tidak selalu membawa manfaat jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa penerimaan sosial atau likability lebih konsisten berkaitan dengan hubungan yang sehat, kesehatan mental, dan kehidupan profesional yang lebih baik.