Tekno

Biaya Infrastruktur Naik, Xbox Pangkas Waktu Cloud Gaming Game Pass

Microsoft akan membatasi waktu bermain melalui layanan Xbox Cloud Gaming bagi pelanggan Game Pass mulai November 2026. Pelanggan Game Pass Ultimate nantinya

Biaya Infrastruktur Naik, Xbox Pangkas Waktu Cloud Gaming Game Pass
Xbox Cloud Gaming, Ilustrasi: DALL·E 3

Pertumbuhan AI Ikut Menekan Infrastruktur Komputasi

Kenaikan biaya cloud gaming juga dikaitkan dengan pesatnya pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan. Cloud gaming dan AI sama-sama memerlukan perangkat komputasi berperforma tinggi, memori, energi listrik, jaringan, serta sistem pendingin.

Jez Corden dari Windows Central mengatakan pengumuman tersebut memperlihatkan bahwa “tidak ada yang benar-benar aman dari krisis komponen yang dipicu oleh AI”. Ia juga menilai keputusan Xbox menunjukkan arah prioritas Microsoft.

Menurut Corden, Microsoft tetap menawarkan akses tertentu ke layanan AI Copilot secara gratis, tetapi justru membatasi cloud gaming yang digunakan oleh pelanggan berbayar. Kondisi itu dinilainya sebagai suatu kontradiksi.

Permintaan besar dari pusat data AI turut meningkatkan persaingan mendapatkan komponen, termasuk random access memory atau RAM. Ketika permintaan bertambah lebih cepat daripada kapasitas produksi, harga perangkat keras dapat meningkat. Biaya tersebut kemudian berpengaruh terhadap pembangunan dan pengoperasian pusat data.

Selain perangkat keras, konsumsi energi menjadi komponen penting dalam biaya layanan. Server yang menjalankan game menghasilkan panas dan harus didinginkan agar bekerja stabil. Semakin lama permainan dialirkan, semakin banyak sumber daya komputasi, listrik, jaringan, dan pendinginan yang digunakan.

Xbox Menjalani Restrukturisasi Besar

Pembatasan cloud gaming menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas di dalam bisnis Xbox. Kepala eksekutif Xbox, Asha Sharma, mengatakan perusahaan dan industri game harus mulai berinovasi dalam hal keterjangkauan dan efisiensi di tengah krisis harga komputasi.

Sharma mengakui kondisi bisnis Xbox sebelumnya tidak sehat. Menurutnya, proses penataan ulang yang berlangsung sepanjang tahun diperlukan agar Xbox dapat bertahan dan terus menjalankan misinya dalam 25 tahun mendatang.

Laporan keuangan Microsoft pada Juli 2026 menunjukkan pendapatan tahunan Xbox turun sekitar 1,7 miliar dolar AS menjadi kurang lebih 21,8 miliar dolar AS. Angka tersebut mencerminkan penurunan sekitar 7 persen dibandingkan 2025.

Restrukturisasi juga mencakup pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 3.200 karyawan. Sebanyak 1.600 karyawan terdampak pada Juli, sedangkan pengurangan berikutnya direncanakan berlangsung secara bertahap selama tahun keuangan Microsoft 2027.

Sejumlah studio yang sebelumnya diakuisisi Xbox, termasuk Compulsion Games dan Double Fine Productions, juga kembali dijadikan perusahaan independen. Perubahan tersebut memperlihatkan upaya Microsoft untuk mengurangi beban operasional dan memperbaiki kinerja divisi Xbox.

Cloud Gaming Masih Sulit Menjadi Layanan Utama

Industri teknologi telah lama memprediksi cloud gaming akan menjadi alternatif konsol tradisional. Namun, layanan ini belum sepenuhnya diterima pasar.

Google pernah meluncurkan Stadia pada November 2019 dengan konsep memainkan game tanpa perangkat keras khusus. Layanan tersebut dihentikan pada Januari 2023 karena jumlah pengguna yang diperoleh tidak memenuhi harapan perusahaan.

Berita Terkait