Dunia Masuk Zona Bahaya Cuaca Ekstrem akibat El Nino, Indonesia Hadapi Ancaman Karhutla Lebih Panjang
Fenomena El Nino yang menguat di Samudra Pasifik kembali menjadi perhatian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB memperingatkan bahwa dunia telah memasuki
fin.co.id - Fenomena El Nino yang menguat di Samudra Pasifik kembali menjadi perhatian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB memperingatkan bahwa dunia telah memasuki zona bahaya cuaca ekstrem karena dampak El Nino mulai terasa di banyak kawasan. Fenomena ini diperkirakan dapat memicu pola cuaca yang semakin tidak menentu, mulai dari kekeringan panjang, suhu panas ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, hujan lebat, banjir, hingga badai tropis yang lebih kuat.
Indonesia menjadi salah satu negara yang perlu meningkatkan kewaspadaan. El Nino umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dapat memperpanjang musim kering, mengeringkan vegetasi dan lahan gambut, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Badan Meteorologi Dunia atau WMO menyebut El Nino kali ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan modern dimulai. Suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik tropis dilaporkan meningkat tajam, menjadi tanda bahwa fenomena tersebut sedang menguat. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di sekitar Pasifik, melainkan dapat merambat ke berbagai belahan dunia hingga setidaknya 2027.
El Nino Mengubah Pola Cuaca Dunia
El Nino merupakan fenomena iklim alami yang terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis menghangat di atas rata-rata. Penghangatan tersebut memengaruhi pola angin dan sirkulasi udara di atmosfer. Akibatnya, pola pembentukan awan dan distribusi hujan di berbagai kawasan dunia dapat berubah.
Di sejumlah daerah, El Nino dapat membuat hujan jauh lebih sedikit dari biasanya. Namun, wilayah lain justru berpotensi menerima hujan lebih deras, banjir, dan tanah longsor. Karena itu, dampak El Nino tidak seragam di setiap negara.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi yang mengkhawatirkan. Ia menilai El Nino sedang membesar di depan mata, sementara kenaikan suhu global akibat aktivitas manusia memperkuat ancaman cuaca ekstrem yang muncul bersamaan.
Peringatan ini penting karena El Nino terjadi ketika suhu rata-rata bumi juga telah meningkat akibat perubahan iklim. Laut yang lebih hangat dapat menambah energi ke atmosfer. Saat fenomena alam dan pemanasan global bertemu, dampaknya dapat menjadi lebih berat bagi masyarakat, lingkungan, ketahanan pangan, serta perekonomian.
Indonesia Berisiko Menghadapi Musim Kering Lebih Panjang
Bagi Indonesia, salah satu dampak yang paling perlu diantisipasi adalah kekeringan yang lebih panjang. Berkurangnya hujan dapat menurunkan ketersediaan air untuk rumah tangga, pertanian, pembangkit listrik, dan sektor industri. Petani dapat menghadapi risiko gagal tanam atau penurunan hasil panen apabila pasokan air irigasi ikut menyusut.
Kondisi kering juga membuat kebakaran hutan dan lahan lebih mudah terjadi dan sulit dipadamkan. Lahan gambut yang mengalami pengeringan sangat rentan terbakar karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah. Kebakaran jenis ini dapat berlangsung lama serta menghasilkan asap pekat yang berpotensi mengganggu kualitas udara hingga melintasi batas negara.
Baca Juga
Laporan BBC menyebut Indonesia sedang berupaya menekan kebakaran yang telah membakar lebih dari 107.000 hektare lahan pada musim kering tahun ini. Sejumlah wilayah menghadapi musim kebakaran yang lebih panjang. Pemerintah dilaporkan mengerahkan pesawat penyemaian awan untuk membantu memicu hujan serta memperkuat langkah penanganan di daerah rawan.
Karhutla bukan hanya persoalan kerusakan hutan. Asapnya dapat memicu gangguan pernapasan, memperburuk kondisi pasien dengan penyakit jantung atau paru-paru, menghambat aktivitas sekolah dan transportasi, serta mengurangi produktivitas ekonomi. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan kelompok dengan penyakit kronis termasuk pihak yang lebih rentan terdampak polusi asap.