Dua Fenomena Pemanasan Pasifik Picu Ancaman Banjir hingga Kebakaran Hutan di AS
Dua fenomena pemanasan besar di Samudra Pasifik sedang menjadi perhatian ilmuwan karena berpotensi mengubah pola cuaca di Amerika Serikat pada musim gugur
fin.co.id - Dua fenomena pemanasan besar di Samudra Pasifik sedang menjadi perhatian ilmuwan karena berpotensi mengubah pola cuaca di Amerika Serikat pada musim gugur hingga musim dingin 2026. Fenomena tersebut adalah gelombang panas laut di timur laut Pasifik dan penguatan El Nino di kawasan tropis Pasifik.
Kombinasi keduanya tergolong langka. Air laut yang jauh lebih hangat dari rata-rata dapat menambah energi dan kelembapan ke atmosfer, sedangkan El Nino mampu menggeser pola angin serta jalur badai dalam skala luas. Dampaknya tidak akan sama di setiap wilayah. California berisiko menghadapi hujan lebat dan banjir, sementara bagian barat laut Amerika Serikat serta sejumlah wilayah Kanada dapat mengalami berkurangnya salju, kekeringan, dan peningkatan ancaman kebakaran hutan.
Gelombang Panas Laut dan Super El Nino Menguat Bersamaan
Gelombang panas laut di timur laut Pasifik telah terbentuk sejak 2025 dan masih bertahan hingga kini. Menurut pengamatan National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA, suhu permukaan laut di sejumlah area bahkan berada sekitar 3 sampai 4 derajat Celsius di atas rata-rata musiman.
Di sisi lain, El Nino diperkirakan terus menguat. El Nino adalah fenomena iklim alami yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur tropis meningkat secara konsisten. Dalam kondisi yang sangat kuat, fenomena tersebut kerap disebut super El Nino.
Keduanya dapat saling memperkuat dampak terhadap cuaca. Laut yang hangat menyebabkan lebih banyak penguapan, sehingga udara membawa kandungan uap air lebih tinggi. Ketika sistem badai terbentuk dan bergerak menuju daratan, kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang hujan deras.
Perubahan iklim menjadi faktor yang memperbesar kekhawatiran. Lautan menyerap sebagian besar panas berlebih akibat peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Karena suhu dasar laut telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, gelombang panas laut kini dapat muncul lebih sering dan bertahan lebih lama.
California Berisiko Menghadapi Banjir dan Longsor
California menjadi salah satu wilayah yang paling diwaspadai. Air laut yang lebih hangat di lepas pantai dapat mendorong kenaikan permukaan laut sementara, terutama ketika gelombang besar dan badai datang bersamaan.
Kondisi ini dapat memicu banjir rob di daerah pesisir, merusak infrastruktur pantai, serta meningkatkan risiko abrasi. Ancaman juga tidak berhenti di garis pantai. Kelembapan dari laut dapat memperkuat atmospheric river, yaitu aliran panjang uap air di atmosfer yang bergerak dari laut menuju daratan.
Atmospheric river sering membawa hujan dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat. Jika hujan turun di daerah perbukitan atau wilayah yang tanahnya telah kering dan rusak akibat kebakaran sebelumnya, risiko longsor dan banjir bandang dapat meningkat.
Ilmuwan mengingatkan bahwa kenaikan muka air laut beberapa sentimeter saja bisa meningkatkan frekuensi banjir di banyak komunitas pesisir. Karena itu, warga di kawasan rawan banjir California perlu mewaspadai musim hujan yang lebih ekstrem.
Baca Juga
Salju Berkurang, Kekeringan dan Kebakaran Hutan Mengintai
Dampak berbeda diperkirakan terjadi di Pacific Northwest, yang mencakup wilayah seperti Oregon, Washington, dan sebagian Kanada bagian barat. El Nino dapat menyebabkan pola badai bergerak lebih ke utara, sementara suhu udara yang lebih hangat membuat curah hujan yang biasanya turun sebagai salju berubah menjadi hujan.
Berkurangnya salju di pegunungan dapat menjadi persoalan besar. Tumpukan salju berfungsi sebagai cadangan air alami yang mencair perlahan pada musim semi dan musim panas. Ketika jumlah salju turun, pasokan air untuk sungai, pertanian, dan kebutuhan masyarakat dapat ikut berkurang.