Internasional . 03/09/2026, 12:49 WIB

Ancaman Banjir dari Himalaya Menguat, India Diminta Waspada usai Tragedi Nepal

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

Bencana Sungai Kosi pada 2008 menjadi contoh penting. Saat itu, hampir 400 orang dilaporkan meninggal di Bihar setelah tanggul jebol di wilayah Nepal. Peristiwa tersebut tidak terjadi karena debit air luar biasa besar, melainkan akibat kegagalan struktur tanggul yang telah lama tidak dirawat secara memadai.

Profesor ilmu kebumian dari Indian Institute of Technology Kanpur, Rajiv Sinha, menilai peristiwa itu sebagai kegagalan struktural, bukan semata-mata kegagalan hidrologis. Artinya, pembangunan dan perawatan infrastruktur memiliki peran sama pentingnya dengan pemantauan cuaca.

Waktu Peringatan Masih Sangat Terbatas

Dalam kondisi banjir monsun biasa, India dapat memperoleh waktu peringatan sekitar 12 jam hingga dua hari, bergantung pada sungai dan kecepatan aliran. Air dari kawasan pegunungan Nepal dapat mencapai dataran Bihar dalam sekitar satu hari melalui sistem Kosi dan Gandak.

Namun, banjir bandang dari sungai kecil di kawasan Chure bisa tiba hanya dalam hitungan jam. Ancaman yang lebih cepat muncul saat terjadi jebolnya bendungan alami akibat longsor atau aliran material campuran batu, lumpur, air, dan es.

Nepal dan India telah berbagi data curah hujan serta tinggi muka air sungai secara langsung melalui jaringan pemantauan tertentu. Meski demikian, masih terdapat keterbatasan jumlah stasiun pemantauan di daerah aliran sungai yang bergerak paling cepat. Kedua negara juga belum memiliki satu model prakiraan banjir bersama yang benar-benar terintegrasi.

Perubahan Iklim Memperbesar Risiko Himalaya

Tragedi Nepal memperlihatkan bahwa ancaman di Himalaya kini tidak lagi sebatas banjir musiman. Hujan ekstrem, pencairan es, longsor, danau glasial yang jebol, serta runtuhan batu dan es dapat menciptakan aliran sangat destruktif dengan energi besar.

Wilayah Himalaya menghangat lebih cepat dibandingkan rata-rata suhu global. Atmosfer yang lebih hangat mampu menyimpan lebih banyak uap air, sehingga hujan dapat turun dalam intensitas yang lebih tinggi dalam waktu singkat. Pada saat bersamaan, mencairnya lapisan beku tanah atau permafrost dapat membuat lereng pegunungan lebih tidak stabil.

Banjir seperti ini membawa sedimen dalam jumlah besar. Sedimen dapat mengangkat dasar sungai, mengurangi kapasitas aliran, dan meningkatkan risiko sungai meluap di kedua sisi perbatasan.

Penutup

Banjir besar di Nepal menjadi pengingat bahwa India dan Nepal menghadapi satu sistem ancaman yang sama di Himalaya. Curah hujan di Nepal memang berpengaruh besar terhadap puncak debit air yang menuju India, tetapi tingkat kerusakan ditentukan pula oleh kondisi tanggul, drainase, tata ruang, dan kesiapan peringatan dini di India.

Ilmu hidrologi modern menunjukkan bahwa penanganan banjir lintas batas tidak cukup dilakukan dengan saling menyalahkan. Pertukaran data yang cepat, pemantauan sungai dan danau glasial, perawatan tanggul, serta sistem peringatan yang benar-benar menjangkau warga menjadi langkah penting untuk mengurangi korban pada bencana berikutnya.

Referensi internasional: BBC News, International Centre for Integrated Mountain Development, Indian Institute of Technology Kanpur, India Central Water Commission.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id