Internasional

Banjir Nepal-Tibet Masuki Hari Kelima, 2.400 Orang Masih Hilang

Upaya pencarian dan penyelamatan korban banjir bandang di wilayah Nepal dan Tibet memasuki hari kelima. Lebih dari 2.400 orang dilaporkan masih hilang setelah

Banjir Nepal-Tibet Masuki Hari Kelima, 2.400 Orang Masih Hilang
Ilustrasi Banjir Nepal-Tibet, Ilustrasi: DALL·E 3

fin.co.id - Upaya pencarian dan penyelamatan korban banjir bandang di wilayah Nepal dan Tibet memasuki hari kelima. Lebih dari 2.400 orang dilaporkan masih hilang setelah banjir besar melanda kawasan pegunungan dan perbatasan kedua wilayah tersebut.

Kondisi medan yang sulit, cuaca yang tidak menentu, serta kerusakan jalan dan jalur komunikasi membuat pencarian berlangsung rumit. Tim penyelamat harus menjangkau daerah-daerah terpencil yang sebelumnya menjadi jalur perjalanan warga lokal, pekerja, hingga wisatawan mancanegara.

Ratusan Warga Asing Hilang di Tibet

Media pemerintah China, CCTV, melaporkan bahwa 546 orang masih hilang di sisi Tibet. Dari jumlah tersebut, terdapat 261 warga asing yang berasal dari 23 negara.

Kelompok warga asing yang belum ditemukan mencakup 104 warga Nepal, 49 warga India, 33 warga Latvia, 18 warga Amerika Serikat, 15 warga Inggris, enam warga Kanada, enam warga Australia, serta sejumlah warga dari Malaysia, Afrika Selatan, Irlandia, Estonia, Jerman, Rusia, Prancis, Finlandia, Belanda, Lituania, Portugal, Ukraina, Spanyol, Hungaria, dan Selandia Baru.

Otoritas China disebut telah menyampaikan informasi mengenai warga asing yang hilang kepada kedutaan besar dan konsulat negara terkait. Data tersebut dihimpun melalui koordinasi sejumlah lembaga, termasuk otoritas urusan luar negeri, keamanan publik, pariwisata, dan manajemen darurat.

Jumlah Warga Inggris Masih Perlu Dipastikan

Laporan dari otoritas Nepal sebelumnya juga menyebutkan 33 warga Inggris hilang. Namun, belum dapat dipastikan apakah sebagian dari 15 warga Inggris yang tercatat hilang di Tibet termasuk dalam daftar yang sama.

Sejumlah warga asing diduga sedang melakukan perjalanan melintasi kawasan perbatasan Nepal-Tibet ketika bencana terjadi. Wilayah ini dikenal memiliki rute wisata pegunungan dan jalur perjalanan lintas batas, sehingga pendataan korban membutuhkan pencocokan data dari kedua sisi.

Perbedaan lokasi pelaporan, identitas korban, serta putusnya akses komunikasi berpotensi membuat angka orang hilang berubah seiring proses verifikasi berlangsung.

Medan Pegunungan Memperlambat Pencarian

Banjir bandang di kawasan Himalaya dapat membawa air, lumpur, batu, pepohonan, dan material lain dengan kecepatan tinggi. Dampaknya bukan hanya menghancurkan bangunan dan kendaraan, tetapi juga memutus jalan, jembatan, serta jalur evakuasi.

Kondisi geografis Nepal dan Tibet membuat operasi pencarian jauh lebih sulit dibandingkan wilayah dataran rendah. Lembah sempit dapat memperkuat arus banjir, sementara longsor susulan berisiko menutup akses menuju lokasi terdampak.

Dalam bencana semacam ini, tim penyelamat biasanya menghadapi kendala berupa suhu rendah, hujan, kabut, dan gangguan jaringan komunikasi. Penentuan lokasi korban juga membutuhkan informasi dari saksi, catatan perjalanan, citra udara, serta koordinasi lintas lembaga dan negara.

Ancaman Bencana Susulan Masih Diwaspadai

Berita Terkait