Ancaman Danau Jebol Bayangi Nepal-Tibet setelah Banjir Bandang Tewaskan 389 Orang
Banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet berubah menjadi salah satu bencana paling mematikan di wilayah Himalaya. Hingga Jumat pagi
Kantor Perdana Menteri Nepal menyatakan sekitar 350 orang berhasil diselamatkan dari sebuah terowongan dekat Sungai Trishuli. Namun, militer masih berupaya mengevakuasi sekitar 100 orang lainnya yang dilaporkan masih berada di dalam area tersebut.
Di sisi Tibet, pemerintah China sebelumnya melaporkan tiga korban meninggal dan 558 orang hilang. Kawasan perbatasan ini merupakan jalur penting bagi wisatawan dan lalu lintas antara Nepal dan China, sehingga jumlah warga asing yang terdampak cukup besar.
Otoritas Nepal juga melaporkan puluhan warga Inggris termasuk di antara orang-orang yang belum ditemukan. Situasi ini memperluas skala operasi pencarian karena keluarga korban dan sejumlah pemerintah asing menunggu kepastian mengenai kondisi warga negaranya.
Runtuhan Gletser dan Krisis Iklim di Himalaya
Para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir berulang kali mengingatkan bahwa kawasan Himalaya menghadapi perubahan besar akibat pemanasan global. Suhu yang meningkat mempercepat pencairan gletser dan mengubah kestabilan es, lereng batuan, serta danau-danau glasial di pegunungan.
Pencairan es tidak selalu langsung menyebabkan runtuhan gletser. Namun, perubahan suhu, retakan pada es, air lelehan, serta ketidakstabilan batuan di bawah gletser dapat meningkatkan risiko longsoran dan banjir dari danau glasial.
Bencana Nepal-Tibet menjadi pengingat bahwa ancaman di Himalaya tidak terbatas pada gempa bumi atau hujan ekstrem. Runtuhan gletser dan terbentuknya sumbatan alami di sungai dapat menciptakan bencana beruntun dengan dampak luas bagi masyarakat di hilir.
Penutup
Banjir bandang yang menewaskan sedikitnya 389 orang di Nepal menunjukkan betapa cepat bencana dapat berkembang di kawasan pegunungan Himalaya. Runtuhan gletser yang semula dikira gempa telah memicu gelombang material besar, sementara terbentuknya danau di perbatasan Nepal-China kini membuka risiko banjir susulan.
Secara ilmiah, peristiwa ini memperlihatkan pentingnya pemantauan gletser, danau glasial, curah hujan, serta kestabilan lereng di kawasan pegunungan tinggi. Sistem peringatan dini dan jalur evakuasi menjadi semakin penting untuk mengurangi korban jiwa ketika perubahan lingkungan membuat risiko bencana di Himalaya semakin kompleks.
Referensi:
BBC News, Nepal-Tibet Floods: Death Toll Rises to 389 in Nepal amid Fears of Second Flood
Baca Juga
United States Geological Survey, Information on Glacial Collapse and Seismic Events