Internasional . 27/08/2026, 10:18 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan 162 Orang, Ratusan Wisatawan Hilang di Perbatasan Tibet

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

Pada tahap awal, aktivitas seismik yang terekam ketika bencana terjadi sempat dianggap sebagai gempa bumi. Namun, analisis lanjutan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menunjukkan bahwa energi seismik tersebut dihasilkan oleh longsoran batu dan es serta pergerakan aliran puing, bukan oleh gempa tektonik seperti dugaan pertama.

Kajian awal citra satelit juga menunjukkan longsoran es dan batu kemungkinan jatuh ke Sungai Lhende, sekitar 20 kilometer di timur laut penyeberangan Rasuwa Gadhi. Material itu dapat mendesak air, membendung aliran untuk sementara, atau membentuk gelombang yang kemudian bergerak cepat ke bagian hilir.

Para ahli masih meneliti urutan kejadian secara lebih terperinci. Beberapa kemungkinan yang diperiksa meliputi runtuhnya bagian gletser, terbentuk dan jebolnya bendungan alami dari material longsor, serta pelepasan air dari danau glasial. Penentuan penyebab akhir memerlukan gabungan citra satelit, data seismik, pengukuran aliran sungai, kondisi cuaca, dan pemeriksaan langsung di lokasi.

Peran Perubahan Iklim Belum Dapat Dipastikan

Perubahan iklim diketahui mempercepat perubahan lapisan es dan salju di kawasan Hindu Kush Himalaya. Laporan ilmiah ICIMOD pada 2026 menyebut laju kehilangan es gletser di kawasan tersebut telah meningkat sekitar dua kali lipat sejak tahun 2000. Penipisan gletser, pencairan lapisan tanah beku, dan terbentuknya danau glasial dapat meningkatkan ketidakstabilan lereng serta risiko banjir mendadak.

Meski demikian, bukti tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa perubahan iklim menjadi penyebab langsung banjir kali ini. Ilmuwan perlu melakukan analisis atribusi untuk mengetahui apakah pemanasan meningkatkan peluang atau besarnya longsoran tertentu. Curah hujan, bentuk lereng, struktur batuan, kondisi gletser, dan perubahan aliran sungai juga perlu diperiksa.

Pemisahan antara konteks ilmiah jangka panjang dan penyebab langsung sangat penting. Pencairan gletser Himalaya memang telah didukung oleh pengamatan modern, tetapi kesimpulan mengenai satu peristiwa harus menunggu data lapangan dan kajian ilmiah yang lebih lengkap.

Pencarian Terhambat Kerusakan Jalan dan Listrik

Tim penyelamat menghadapi medan pegunungan, jalan terputus, cuaca yang berubah cepat, serta aliran sungai yang masih berbahaya. Sejumlah helikopter dilaporkan kesulitan mendarat di lokasi tertentu sehingga bantuan harus diturunkan dari udara atau dibawa melalui rute alternatif.

Pemerintah Nepal mengirim tenda, makanan, selimut, lampu tenaga surya, kelambu, dan perlengkapan tidur ke wilayah terdampak. India, China, Amerika Serikat, Uni Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta sejumlah negara dan lembaga kemanusiaan juga menawarkan atau mengirimkan bantuan.

Amerika Serikat menjanjikan bantuan senilai 500.000 dolar AS untuk tempat penampungan darurat, air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya. Tim Perserikatan Bangsa-Bangsa bersama mitranya juga memobilisasi personel dan pasokan untuk mendukung penanganan yang dipimpin pemerintah Nepal.

Penutup

Banjir bandang di Nepal memperlihatkan besarnya ancaman bencana berantai di kawasan pegunungan tinggi. Longsoran es dan batu dapat menghasilkan sinyal seismik, membendung sungai, lalu memicu aliran lumpur dan puing yang bergerak cepat ke permukiman di bagian hilir.

Ilmu pengetahuan modern membantu membedakan sinyal longsor dari gempa serta menelusuri sumber bencana melalui citra satelit. Namun, temuan awal tetap perlu diuji dengan data tambahan. Dalam jangka panjang, percepatan pencairan gletser Himalaya memperkuat kebutuhan akan pemantauan satelit, sensor sungai, sistem peringatan dini, peta bahaya, dan jalur evakuasi yang dapat menjangkau masyarakat serta wisatawan lintas negara.

Referensi:

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id