Bintang Vela
Harusnya saya memenuhi undangan eksklusif ini kemarin: expo helikopter di kawasan bandara Cengkareng Jakarta. Ada daya tarik khusus di situ: pesawat buatan anak-anak Indonesia yang disebut Vela. Itu helikopter tapi bukan helikopter.
Oleh: Dahlan Iskan
Harusnya saya memenuhi undangan eksklusif ini kemarin: expo helikopter di kawasan bandara Cengkareng Jakarta. Ada daya tarik khusus di situ: pesawat buatan anak-anak Indonesia yang disebut Vela. Itu helikopter tapi bukan helikopter.
Tapi hari ini saya harus jadi tuan rumah ''Muktamar Perusuh Disway'' yang mendahului muktamar NU minggu depan.
Di acara hari ini saya memang hanya jadi tuan rumah tapi tidak sopan kalau saya tinggal pergi. Pemilik acaranya para ''Perusuh'' sendiri.
Istilah perusuh juga lahir dari mereka sendiri –para pembaca Disway yang suka menulis komentar nakal-nakal itu. Kenapa bukan saya penyelenggaranya? Itu bisa sensitif. Bisa dituduh sebagai orang tua yang tidak tahu diri: bisa dikira galang dukungan untuk terjun ke politik.
Vela sendiri sebenarnya belum mau unjuk diri. Apalagi di pameran kelas Asia seperti yang dimulai kemarin: Hexa –Heli Expo Asia. Peralatan untuk terbang sudah jadi tapi belum dipasang. Tapi panitia Hexa minta agar Vela ikut pameran. Tentu karena Vela bisa jadi daya tarik baru bagi Hexa.
Vela adalah pesawat yang bisa terbang dan mendarat seperti helikopter: vertikal. Setelah mengudara Vela terbang maju seperti pesawat biasa. Yang berbeda dengan helikopter: Vela punya banyak baling-baling kecil di bagian atasnya. Delapan baling-baling. Untuk terbang dan mendarat. Lalu ada satu baling-baling di bagian belakang: untuk gerak majunya. Karena itu Vela lebih tidak bising.
"Suara bising yang ditimbulkan Vela hanya separo dari kebisingan helikopter," ujar Donny Paryana, kepala program Vela. Termasuk kepala program desainnya. Itu karena motor-motor Vela adalah motor listrik. Bahwa perlu sampai delapan motor semata-mata untuk tingkat keselamatan yang tinggi.
"Siapa tahu ada mesin yang mati masih tetap aman," ujar Donny.
Donny adalah alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan mesin. Begitu lulus ia bekerja di PT Dirgantara Indonesia. 30 tahun lamanya Donny meniti karir di perusahaan pesawat kebanggaan Presiden Prof Dr B.J. Habibie itu –dan kebanggaan kita semua.
Baca Juga
Setelah PT DI tutup, Donny ke sana ke mari. Tapi idenya membuat pesawat tidak surut. Akhirnya, dua tahun lalu, ia dipercaya Whitesky Group –induk perusahaan taksi udara Indonesia – mengepalai program Vela.
Perusahaan itu punya workshop di Cimahi, dekat Bandung. Awalnya ingin bisa memanfaatkan sebagian fasilitas PT DI tapi tidak perlu lagi. Badan pesawat bisa sepenuhnya dikerjakan di workshopnya sendiri.
"Semua pemasok karbon kompositnya pun perusahaan di Indonesia. Bagus-bagus. Sudah ada UMKM yang bisa memasok karbon komposit," ujar Donny.
Vela didesain sebagai angkutan udara di perkotaan. Terbangnya tidak tinggi: maksimum 5.000 kaki atau sekitar 1.600 meter. Dengan ketinggian seperti itu tidak diperlukan tekanan udara khusus. Berarti biaya produksinya bisa lebih rendah dibanding membuat pesawat. Teknologinya juga tidak perlu sama dengan pesawat komersial.
Vela –diambil dari nama rasi bintang– akan bisa jadi bintang Indonesia ke depan. Bahkan bintang dunia: kalau dapat izin terbang. Juga kalau lulus uji emisi, hehe. Tentu yang terakhir itu tidak perlu diuji karena delapan motornya semuanya motor listrik. Artinya Vela terbang dengan tenaga baterai.
Berita Terkait
Bintang Vela
Kupas Bawang