Catatan Dahlan Iskan

Kupas Bawang

Heran. Soal ”kupas bawang” masih terus mendominasi percakapan jagat maya. Istana pantas sewot. Begitu banyak isu besar yang ingin ditonjolkan sebagai prestasi Presiden Prabowo namun yang jadi pembicaraan tetap saja: kupas bawang dengan upah Rp 700.000/kg.

Kupas Bawang

Memang masih ada sedikit ganjalan di teks otentik pidato presiden itu. Soal Rp 700.000/kg sudah clear: yang tertulis Rp 700/kg. Tapi soal "pengupas bawang" masih ada dalam teks. Ini juga harus di-clear-kan. Bu Susanah bukan pengupas bawang. Dia penjahit kain majun --kain sisa potongan yang bisa dipakai lap-- dan pencuci peralatan makan di dapur MGB. Sama sekali tidak disebut kupas bawang. Tapi ini bisa dijelaskan dengan jenaka: pernah sesekali bantu kupas bawang.

Berarti tetap ada yang salah dalam pembuatan teks pidato itu. Setidaknya kurang correct. Ini pelajaran yang sangat baik bagi para penulis pidato. Apalagi pidato presiden. Mungkin semua orang sibuk menjelang 17 Agustus tapi pemeriksaan pidato presiden harus berlapis. Itu pun tetap saja ada peluang untuk salah.

Keseleo lidah tidak otomatis terkait dengan umur. Semangat yang menggebu juga bisa menjadi penyebab keseleo lidah. Apalagi kalau sudah biasa membaca angka-angka besar. Atau membanggakan capaian-capaian yang besar. Maka angka Rp700 dirasa kurang besar.

Saya sendiri punya kecenderungan over semangat seperti itu. Tapi karena saya bukan siapa-siapa paling yang protes sebatas para perusuh Disway.

Saya ingat peristiwa kecil saat mulai menjabat sesuatu. Setiap datang di satu acara saya disodori teks pidato. Tidak pernah saya baca. Ternyata ada dua orang yang tugasnya khusus membuat pidato saya. Di minggu kedua mereka tidak pernah lagi membuat teks pidato. Toh tidak dibaca.

Saya pun ingat ada semacam appeal dari jagad maya: sebaiknya, kalau pidato, Presiden Prabowo menggunakan teks saja. Agar tidak salah ucap. Tapi yang baru saja terjadi justru ketika pidato Presiden Prabowo pakai teks.

Berpidato memang punya ”anak haram” keseleo lidah. Menulis punya ”anak haram” salah tulis. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait