Catatan Dahlan Iskan . 17/08/2026, 05:58 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Bagi orang bisnis, berita terbesar di peringatan proklamasi kemerdekaan hari ini adalah: dijualnya saham mayoritas perusahaan raksasa tambang PT Bayan ke ''Raja Sembilan Haji'': Haji Isam.
Sumber tepercaya Disway menyebutkan sebanyak 62 persen saham PT Bayan sudah beralih ke Haji Isam lewat perusahaannya, PT Jhonlin.
Berarti tahun depan orang terkaya Indonesia bukan lagi Datuk Low Tuck Kwong, pemegang saham mayoritas PT Bayan selama ini. Bisa jadi orang terkaya Indonesia tahun depan adalah Haji Isam yang nama lengkapnya Haji Andi Syamsuddin Arsyad.
Anda sudah tahu: PT Bayan Resources adalah perusahaan tambang dengan laba terbesar di Indonesia. Dua tahun lalu labanya Rp32 triliun setahun.
Anda sudah tahu: pemegang saham PT Bayan Resources Tbk selama ini adalah Datuk Dr Low Tuck Kwong dan anaknya, Elaine Low (62,22 persen): 40,22 dan 22 persen.
Sisanya dipegang PT Sumber Suryadaya Prima sekitar 10 persen. Pemilik perusahaan ini juga saya kenal sangat baik. Masih ada dua pemegang saham kecil: Lim Chai Hock (3,26 persen) dan Jenny Quantero (2,99 persen). Sisanya, sekitar 20 persen, milik publik lewat pasar modal.
Kalau Haji Isam sudah mengambil alih sebanyak 62 persen berarti habislah saham Datuk Low Tuck Kwong di Bayan. Berakhir pula kisah Raja Ajaib di dunia tambang.
Bayan bukanlah perusahaan tambang terbesar tapi bisa meraih laba terbesar. Berarti perusahaan ini luar biasa efisien. Labanya mengalahkan laba KPC milik grup Bakrie dan Adaro milik Boy Thohir –padahal tambang mereka lebih besar.
Saya masih belum bisa menuliskan bagaimana skenario transaksinya. Misalnya apakah pembelian 62 persen saham seharga Rp300 triliun itu dibayar lunas oleh Haji Isam. Atau dibayar dengan cara lain. Anda bisa bantu saya merumuskan cara pembayaran yang bagaimana yang tidak memberatkan cash flow Haji Isam.
Yang lebih menarik bagi saya adalah hadirnya dua anak muda di transaksi ini. Lihatlah foto pertama di tulisan ini. Anda sudah kenal: yang di tengah itu Datuk Low dan Haji Isam. Yang paling kiri adalah Norman Joesoef. Sedang yang paling kanan adalah Alwin Cipto Ciputra.
Norman Joesoef adalah putra pengusaha sukses Harsha Joesoef: partner FedEx di Indonesia. Harsha sampai sekarang masih menjabat duta besar Indonesia di Slovakia. Menjabat di Slovakia sejak 2019. Namun masih kalah lama dari dubes kita di Beijing, Djauhari Oratmangoen.
Siapa Alwin Cipto Ciputra? Awalnya saya kira itu Cipta Ciputra, cucu pengusaha Tionghoa yang tergolong paling nasionalis, alm Ciputra. Ternyata Alwin Cipto Ciputra tidak ada hubungan dengan keluarga Ciputra Group. Maka saya batalkan rencana ucapkan selamat kepada Cipta Ciputra.
"Kami memang berteman tapi ia bukan keluarga kami," ujar Cipta Ciputra Harun, cucu Ciputra dari Harun Hayadi.
Saya pun ingat: di dekat Bintaro juga ada toko bernama Toko Ciputra. Ternyata juga tidak ada hubungan bisnis dengan keluarga Ciputra Group. Toko mebel itu diberi nama Ciputra karena lokasinya di Jalan Ciputat Raya.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id