Internasional . 16/08/2026, 09:30 WIB
fin.co.id - Kebakaran hutan besar melanda kawasan cagar alam High Fens di Belgia dan disebut sebagai salah satu kebakaran terparah dalam sejarah negara tersebut. Api yang mulai berkobar sejak Jumat terus menyebar hingga Sabtu, sementara kondisi medan dan cuaca menyulitkan petugas untuk mengendalikan kobaran api.
Sekitar 650 warga di wilayah lain di Eropa juga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat kebakaran hutan yang terjadi di Prancis. Situasi tersebut menjadi gambaran bagaimana gelombang kebakaran sedang melanda sejumlah wilayah Eropa pada musim panas tahun ini.
Kebakaran terjadi di High Fens, kawasan alam luas di bagian timur Belgia yang berada tidak jauh dari perbatasan Jerman. Kobaran api membakar sebagian kawasan cagar alam yang terdiri dari hutan, padang rumput, serta lahan basah dan rawa.
Otoritas regional Wallonia menggambarkan kebakaran tersebut sebagai yang terbesar dalam sejarah Belgia dalam beberapa tahun terakhir. Pada Sabtu sore, api masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan.
Juru bicara otoritas regional Wallonia, Nicolas Yernaux, mengatakan terdapat risiko api mencapai rumah-rumah warga. Berbagai sumber daya dikerahkan untuk mencegah kobaran api bergerak menuju permukiman.
Dua desa di sekitar kawasan terdampak diperintahkan untuk melakukan evakuasi. Sebuah gedung olahraga juga disiapkan untuk menampung warga yang harus meninggalkan rumah mereka.
Petugas pemadam menghadapi kondisi medan yang tidak mudah. Sebagian wilayah High Fens berupa lahan rawa, padang semak dan hutan sehingga kendaraan pemadam sulit mencapai lokasi kebakaran.
Kondisi tersebut membuat petugas harus menentukan bagian kawasan yang dapat diprioritaskan untuk dipadamkan. Beberapa bagian padang semak bahkan dibiarkan terbakar karena sulit dijangkau.
Angin juga menjadi persoalan besar. Gregory Melotte, salah seorang petugas yang terlibat dalam operasi pemadaman, mengatakan arah angin sempat berubah beberapa kali.
Perubahan tersebut membuat kondisi di lapangan menjadi sulit diprediksi. Petugas berhasil memperlambat api yang bergerak dari kawasan dataran rendah sehingga tidak langsung menyebar menuju hutan cemara.
Namun, operasi belum selesai karena kobaran api masih bergerak dan kondisi angin dapat kembali berubah.
Besarnya kebakaran membuat Belgia mengaktifkan mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa. Langkah tersebut memungkinkan bantuan dari negara-negara Eropa lainnya dikirim untuk mendukung operasi pemadaman.
Dua pesawat pemadam kebakaran dari Swedia serta dua helikopter dari Republik Ceko dan Belanda dikerahkan untuk membantu petugas Belgia.
Penggunaan pesawat dan helikopter menjadi penting dalam kondisi medan yang sulit dijangkau kendaraan darat. Pesawat pemadam dapat menjatuhkan air langsung ke area kebakaran, sementara helikopter dapat membantu menangani titik api yang sulit dicapai dari darat.
Pengerahan bantuan lintas negara juga menunjukkan bahwa kebakaran hutan dalam skala besar dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan regional, terutama ketika sumber daya pemadam di satu negara tidak lagi mencukupi.
Pada waktu yang hampir bersamaan, kebakaran hutan terjadi di Landes, Prancis bagian barat daya. Sekitar 650 warga harus meninggalkan rumah mereka setelah kebakaran kembali menyala.
Api tersebut pertama kali muncul pada Kamis dan kembali berkobar pada Sabtu. Lebih dari 500 petugas pemadam dikerahkan untuk menghadapi kebakaran tersebut.
Selain Belgia dan Prancis, kebakaran hutan juga dilaporkan terjadi di Kroasia, Spanyol dan Serbia.
Rangkaian kebakaran tersebut terjadi setelah Eropa mengalami periode panas ekstrem. Kondisi panas dan kering dapat membuat vegetasi kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar dan memungkinkan api menyebar dengan cepat.
Peristiwa di Belgia dan Prancis terjadi dalam konteks perubahan kondisi iklim di Eropa. Layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, mengonfirmasi bahwa kawasan Eropa barat mengalami periode Juni hingga Juli terpanas yang pernah tercatat.
Suhu tinggi tidak secara otomatis menyebabkan kebakaran hutan. Namun, panas ekstrem dapat memperparah kekeringan dan membuat bahan vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
Ketika kondisi tersebut bertemu dengan angin kencang dan sumber penyulut api, kebakaran dapat berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan petugas untuk mengendalikannya.
Inilah yang membuat kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan kebakaran hutan modern. Petugas tidak hanya harus memadamkan api yang sudah muncul, tetapi juga memperkirakan arah penyebaran api berdasarkan angin, kelembapan dan kondisi vegetasi.
Kebakaran hutan tidak bergerak secara seragam. Api dapat menyebar lebih cepat pada area dengan vegetasi kering dan ketika angin membawa panas serta bara ke wilayah lain.
Medan juga memainkan peran penting. Kawasan seperti High Fens memiliki kombinasi hutan, padang semak dan lahan basah yang membuat akses kendaraan pemadam menjadi terbatas.
Selain itu, kebakaran di area yang luas membutuhkan koordinasi antara petugas darat, pesawat, helikopter dan pusat komando. Jika arah angin berubah, strategi pemadaman yang sebelumnya efektif dapat harus segera disesuaikan.
Karena itu, keberadaan sistem peringatan dini dan kemampuan untuk melakukan evakuasi dengan cepat menjadi sangat penting. Evakuasi 650 warga di Prancis dan perintah evakuasi di sekitar High Fens menunjukkan bahwa keselamatan penduduk menjadi prioritas ketika api berpotensi mendekati permukiman.
Kebakaran di High Fens menjadi salah satu peristiwa kebakaran hutan paling serius yang dialami Belgia dalam sejarah modern. Api yang sulit dikendalikan, medan yang berat dan perubahan arah angin membuat operasi pemadaman menjadi sangat kompleks.
Kejadian ini juga tidak berdiri sendiri. Kebakaran di Belgia, Prancis, Kroasia, Spanyol dan Serbia terjadi dalam periode ketika Eropa mengalami panas ekstrem. Data Copernicus mengenai rekor suhu Juni hingga Juli di Eropa barat memperlihatkan bagaimana kondisi panas dapat menciptakan lingkungan yang semakin mendukung terjadinya kebakaran.
Ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa suhu tinggi, kekeringan, kondisi vegetasi dan angin merupakan faktor penting yang menentukan perilaku kebakaran. Karena itu, pencegahan, pemantauan cuaca, sistem peringatan dini dan evakuasi cepat semakin penting ketika menghadapi risiko kebakaran hutan di tengah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.
Referensi:
BBC News, Belgian firefighters battle blaze tearing through nature reserve
Copernicus Climate Change Service, European State of the Climate
European Commission, EU Civil Protection Mechanism
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id