Jemput Depan
Sejak tahun 2020 praktis tidak ada uang kertas lagi di Tiongkok. Terutama setelah sukses melakukan uji coba e-money di empat kota.
Total, satu transaksi perlu sekitar 3-4-5 hari. Biaya pun muncul di setiap perpindahan rekening bank itu.
Itulah yang dilihat Tiongkok sebagai kelemahan SWIFT.
Di zaman nan lalu, saat SWFT mulai diterapkan, transaksi internasional 3-5 hari sudah dianggap sangat cepat. Juga paling praktis. Anda sudah tahu: SWIFT mulai diberlakukan tahun 1977, ketika Anda baru belajar batingkaung.
Sebelum ada SWIFT transaksi internasional antar bank dilakukan lewat telex. Atau pengiriman dokumen fisik. Alangkah kunonya.
Tapi di zaman serba digital sekarang ini tiga hari adalah lama. Bahkan tiga jam saja sudah dianggap terlalu lama. SWIFT oleh Tiongkok sudah dianggap kuno.
Tiongkok punya gagasan: kalau setiap negara punya ''e-wallet'' untuk apa harus melakukan cara transaksi muter-muter lewat banyak bank. Tinggal e-wallet ke e-wallet. Lewat ''aplikasi'' yang disebut ''mBridge''. Dengan cara itu transaksi internasional bisa dilakukan real time. Bukan tiga hari atau tiga jam tapi cukup tiga detik. Biayanya pun diklaim bisa turun tinggal 30 persennya. Alangkah murahnya. Tiongkok tidak hanya berpikir jualan kancing baju yang murah tapi juga transaksi internasional yang murah.
Tentu setiap negara harus punya ''e-wallet'' yang isinya Yuan (China Yuan, CNY). Itu secara tidak langsung membuat satu negara harus punya cadangan devisa dalam bentuk Yuan –tidak lagi hanya dolar Amerika.
Kapan ''mBridge'' mulai berlaku? Anda mungkin bisa menebaknya. Saya tidak tahu. Yang jelas uji coba sudah dilakukan antara Tiongkok dan sejumlah negara ASEAN seperti Thailand. Juga dengan enam negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab. Harapannya: perdagangan minyak bisa dilakukan dalam Yuan.
Thailand dan UAE telah melangkah menjemput masa depan. Masa depan memang bisa dijemput. Bisa juga hanya ditunggu. (Dahlan Iskan)
Baca Juga
Berita Terkait
Jemput Depan
Beautiful Beast