Internasional

Australia Disebut Jadi Pusat Kepunahan Satwa

Australia selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati paling unik di dunia. Namun di balik kekayaan alam tersebut, Australia kini

Australia Disebut Jadi Pusat Kepunahan Satwa
Kepunahan Satwa, Image: DALL·E 3

Kepunahan tidak hanya berarti hilangnya satu jenis hewan.

Ekosistem terdiri dari hubungan kompleks antara tumbuhan, hewan, mikroorganisme, tanah, air, dan manusia. Hilangnya satu spesies dapat mengubah hubungan tersebut dan memberikan dampak lanjutan terhadap spesies lain.

Keanekaragaman hayati juga memiliki nilai ekonomi. Pertanian, pariwisata, pembangunan, kesehatan, dan berbagai aktivitas manusia bergantung pada fungsi ekosistem yang sehat.

Para ilmuwan juga melihat keanekaragaman hayati sebagai sumber potensi penemuan baru. Senyawa biologis dari tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme dapat menjadi bahan penelitian untuk obat-obatan, teknologi pertanian, hingga strategi menghadapi perubahan iklim.

Karena itu, kehilangan biodiversitas pada akhirnya juga dapat menjadi kerugian bagi manusia.

Australia Masih Memiliki Peluang

Australia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan satwa liarnya. Kekayaan sumber daya alam, pembangunan, kepentingan industri, perubahan iklim, dan kebutuhan ekonomi sering kali berhadapan langsung dengan agenda konservasi.

Namun kisah numbat menunjukkan bahwa upaya manusia dapat membalikkan keadaan.

Dari populasi yang pernah berjumlah kurang dari 50 ekor di salah satu habitat pentingnya, numbat kini telah berkembang menjadi ribuan individu secara nasional.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa perlindungan habitat, pengendalian predator, penelitian ilmiah, pemantauan populasi, dan program pengembangbiakan dapat menghasilkan perubahan nyata.

Pada saat yang sama, keberhasilan tersebut juga membawa pesan penting: penyelamatan spesies tidak boleh dihentikan hanya karena jumlahnya mulai meningkat.

Penutup

Australia memang menghadapi salah satu krisis keanekaragaman hayati paling serius di dunia. Hilangnya habitat, spesies invasif, penyakit, kebakaran, perubahan iklim, dan tekanan pembangunan telah membawa banyak satwa asli menuju kepunahan.

Namun kisah numbat memperlihatkan bahwa tren tersebut masih dapat dilawan.

Kemajuan ilmu konservasi modern memungkinkan para peneliti memantau populasi, menjaga keragaman genetik, mengendalikan predator, memulihkan habitat, serta mengembangkan program pengembangbiakan yang lebih terarah.

Berita Terkait