Hutama Karya Dukung Gerakan Nasional Zero ODOL Melalui Kampanye Selamat Sampai Tujuan (SETUJU)
Menyelaraskan semangat "Terhubung Melayani, Bergerak untuk Negeri", PT Hutama Karya (Persero) tak main-main dalam memerangi kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL).
Ringkasan :
- Hutama Karya intensifkan Operasi ODOL di berbagai ruas tol kelolaannya untuk mendukung Gerakan Nasional Zero ODOL.
- Sepanjang Januari-Juli 2026, 505 kendaraan angkutan barang melanggar ketentuan ODOL dan telah ditindak.
- Sistem Weigh in Motion (WIM) turut memperkuat pengawasan, mengidentifikasi 342.748 kendaraan tidak memenuhi ketentuan.
fin.co.id - Menyelaraskan semangat "Terhubung Melayani, Bergerak untuk Negeri", PT Hutama Karya (Persero) tak main-main dalam memerangi kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL).
Perusahaan BUMN ini secara konsisten menggelar Operasi ODOL di setiap ruas tol yang mereka kelola.
Langkah ini merupakan bagian krusial dari kampanye keselamatan SETUJU (Selamat Sampai Tujuan) yang mengusung pesan "SETUJU untuk Zero ODOL".
Fokus utamanya adalah memastikan kepatuhan terhadap dimensi dan muatan kendaraan.
Tujuannya jelas: menciptakan perjalanan yang lebih aman, menjaga keandalan infrastruktur jalan tol, sekaligus mendukung sistem transportasi nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Ancaman Nyata Kendaraan ODOL di Jalan Tol
Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menegaskan bahwa kendaraan ODOL masih menjadi momok menakutkan bagi penyelenggaraan jalan tol.
Mengapa tidak? Kendaraan jenis ini berpotensi besar memicu kecelakaan lalu lintas.
Selain itu, dampak buruknya juga merusak keandalan layanan infrastruktur jalan tol yang telah dibangun dengan susah payah.
"Kendaraan ODOL tidak hanya melanggar ketentuan yang berlaku, tetapi juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kegagalan pengereman, kehilangan kendali, hingga terguling," ujar Hamdani.
Baca Juga
Ini tentu saja membahayakan seluruh pengguna jalan lainnya.
Lebih jauh lagi, muatan dan dimensi yang melebihi batas normal memberikan beban ekstra pada perkerasan jalan, jembatan, dan struktur pendukung lainnya.
Akibatnya, usia pakai infrastruktur jalan tol bisa berkurang drastis.