Catatan Dahlan Iskan

Tanpa Utang

Saya dihadapkan pada dilema itu. Kemarin. Si pembawa dilema: enam orang pengusaha-pejuang dari berbagai kota. Mereka disebut pengusaha karena memang punya perusahaan.

Tanpa Utang

REA singkatan Real Estate Alliance.

Tentu hanya nama. Tidak harus usaha real estate.

Misinya sama: bagaimana jadi pengusaha sukses tanpa utang. Yang sudah telanjur punya utang harus diselesaikan. Jual aset. Lunasi utang. Atau cara lain lagi. Mereka saling bertukar pendapat. Sharing pengalaman.

Tanggal 13 Aguatus nanti pun seperti itu: lima orang pengusaha anggota SyaREA World --awalnya terdengar seperti Syariah World-- akan buka-bukaan: berapa utang mereka dulu, bagaimana cara terbebas utang.

Salah satu dari mereka masih sedang dalam proses menyelesaikan utang Rp 140 miliar. Asetnya cukup untuk menyelesaikannya.

Yang satu orang lagi bukan punya utang, ia justru punya tagihan: USD8 juta. Ia kontraktor ME dengan kontrak USD13 juta. Baru dibayar USD5 juta. Ia seorang insinyur teknik mesin alumnus ITS. Ia sudah berusaha menagih utang. Tidak pernah berhasil. Padahal prusahaan yang berutang itu anak dari grup usaha yang amat besar.

Ia pun praktis bangkrut. Lalu ia ikhlaskan tagihan itu. Ia merintis usaha baru lagi. Kecil-kecilan --untuk ukuran lama. Ia tanam tujuh hektare cavendish. Di tanah orang lain. Sudah mulai menghasilkan. Ia akan bangkit lewat situ. Itulah bedanya pengusaha dengan bukan pengusaha: kalau jatuh harus bisa bangkit lagi. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait