Jelang Pilpres FIFA 2027, Dukungan untuk Gianni Infantino Rontok!
Gelombang penolakan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin meluas menjelang pemilihan Presiden FIFA periode 2027–2031.
Banyak pemangku kepentingan menilai hak komersial Piala Dunia merupakan aset paling berharga milik FIFA yang seharusnya tidak dialihkan kepada pihak swasta.
Penolakan akhirnya memaksa FIFA membatalkan proposal tersebut. Kegagalan itu dinilai menjadi salah satu krisis tata kelola terbesar yang dihadapi organisasi sepak bola dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Federasi Eropa Soroti Tata Kelola FIFA
Federasi Sepak Bola Serbia menjelaskan bahwa pencabutan dukungan dilakukan setelah melihat berbagai perkembangan yang dianggap telah merusak citra FIFA.
Menurut mereka, kepemimpinan organisasi membutuhkan perubahan agar kepercayaan publik terhadap FIFA dapat dipulihkan.
Sementara itu, Federasi Sepak Bola Swedia menegaskan bahwa keputusan mereka didasarkan pada hilangnya kepercayaan terhadap tata kelola organisasi.
Swedia menilai persoalan transparansi, manajemen organisasi, serta proses pengambilan keputusan menjadi perhatian utama yang harus segera dibenahi.
Senada dengan itu, Asosiasi Sepak Bola Wales menyatakan bahwa lemahnya komunikasi, buruknya pengelolaan hubungan dengan para pemangku kepentingan, serta berbagai persoalan kepemimpinan menjadi alasan utama mereka menarik dukungan terhadap Infantino.
Infantino Masih Ingin Bertahan
Meski menghadapi tekanan yang semakin besar, Gianni Infantino dikabarkan belum berniat mundur.
Ia tetap berkomitmen maju dalam pemilihan Presiden FIFA mendatang yang dijadwalkan berlangsung pada Kongres FIFA di Maroko pada Maret 2027.
Infantino telah memimpin FIFA sejak 2016 dan berhasil melewati tiga periode kepemimpinan.
Baca Juga
Selama masa jabatannya, FIFA menjalankan berbagai perubahan besar, mulai dari penambahan jumlah peserta Piala Dunia, peningkatan hadiah kompetisi internasional, hingga ekspansi turnamen klub dunia.
Namun di sisi lain, berbagai kebijakan tersebut juga menuai kritik karena dianggap terlalu berorientasi pada aspek komersial dibanding menjaga keseimbangan kepentingan seluruh anggota FIFA.