Gelombang penolakan disebut tidak hanya datang dari Eropa.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) juga dikabarkan menyampaikan keberatan terhadap rencana tersebut.
Apabila benar terjadi, kondisi ini menunjukkan bahwa polemik telah meluas ke berbagai konfederasi sepak bola dunia dan berpotensi memengaruhi stabilitas organisasi FIFA.
Dalam keterangannya kepada media, Kevin Lamour menyebut wacana tersebut bukan merupakan hasil keputusan bersama, melainkan proyek yang didorong oleh satu individu.
Menurutnya, para pemimpin sepak bola dunia perlu mengevaluasi kembali arah kebijakan FIFA sebelum situasi berkembang semakin jauh.
"Ini adalah proyek dari satu individu semata."
Lamour juga menilai sudah saatnya para pemimpin organisasi sepak bola internasional mengambil keputusan yang dianggap tepat demi menjaga kredibilitas FIFA.
Kevin Lamour mengungkapkan bahwa banyak pegawai FIFA merasa kecewa terhadap proses pengambilan keputusan yang dinilai dilakukan secara terburu-buru.
Ia mengatakan para staf merasa tidak dilibatkan secara memadai dalam pembahasan rencana besar tersebut.
Selain itu, Lamour menilai lingkungan kerja di FIFA seharusnya dibangun dengan komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.
Baca Juga
Menurutnya, para pegawai layak memperoleh perlakuan profesional, bukan tekanan ataupun intimidasi.
Meski melontarkan kritik keras terhadap pimpinan FIFA, Kevin Lamour menegaskan dirinya tidak berniat mengundurkan diri.
Sebaliknya, ia memilih tetap menjalankan tugasnya sambil menerima segala konsekuensi atas sikap yang diambil.
Menurut Lamour, apabila akhirnya harus diberhentikan dari jabatannya, ia akan menghormati keputusan tersebut.
Baginya, menyampaikan pandangan secara terbuka merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap organisasi yang selama ini ia layani.