Penurunan tersebut cukup signifikan jika dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Pada 23 Juli 2026, harga Brent sempat melonjak hingga menembus 100,07 dolar AS per barel, sedangkan WTI mencapai 91,48 dolar AS per barel.
Pergerakan harga tersebut menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak dunia terhadap perkembangan geopolitik internasional.
Keputusan Tidak Hanya Berdasarkan Harga Harian
Meskipun harga minyak dunia mulai turun, masyarakat masih harus bersabar menunggu keputusan resmi mengenai harga Pertamax.
Pasalnya, pemerintah bersama Pertamina akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai komponen biaya, mulai dari:
-
Harga rata-rata minyak mentah dunia.
-
Biaya pokok penyediaan (BPP).
-
Biaya distribusi dan operasional.
-
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
-
Margin keuntungan yang ditetapkan perusahaan.
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, harga jual BBM dapat mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih realistis.
Baca Juga
Kementerian ESDM juga mengingatkan bahwa kondisi pasar minyak global masih sangat dinamis.
Ketegangan geopolitik di sejumlah wilayah produsen minyak dunia membuat harga komoditas energi sulit diprediksi. Dalam hitungan hari, harga minyak bisa melonjak tajam ataupun turun drastis tergantung perkembangan situasi internasional.
Karena itu, pemerintah memilih menggunakan pendekatan rata-rata harga minyak dalam periode tertentu agar keputusan penyesuaian harga BBM tidak berubah-ubah terlalu cepat.
Pertamina Berpotensi Sesuaikan Harga
Apabila hasil evaluasi menunjukkan harga keekonomian Pertamax memang lebih rendah dibanding harga jual saat ini, maka Pertamina memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian harga kepada konsumen.
Kebijakan tersebut tentunya akan mempertimbangkan stabilitas pasokan energi nasional, kondisi fiskal, serta keberlanjutan operasional perusahaan.
Di sisi lain, masyarakat juga berharap tren penurunan harga minyak dunia dapat memberikan dampak positif terhadap harga BBM nonsubsidi sehingga biaya transportasi maupun logistik dapat ikut menurun. (*)