fin.co.id - Penyakit batu saluran kemih terus membayangi masyarakat dan mencatatkan kenaikan kasus di berbagai belahan dunia. Tak sekadar memicu rasa sakit yang menyiksa, gangguan urologi ini memiliki tingkat risiko kambuh yang amat tinggi jika akar masalahnya tak diselesaikan hingga tuntas. Oleh karena itu, inovasi medis modern kini tak cuma berfokus pada pengancuran batu, tetapi juga pencegahan pembentukannya kembali.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U, FICS, Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dalam Media Gathering bertajuk "Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih" yang diselenggarakan RS Premier Bintaro di Jakarta.
Menurut penjelasan dr. Teguh, gangguan ini muncul saat endapan mineral mengkristal di area ginjal maupun saluran kencing akibat defisit asupan air, ganjalan metabolisme, menu makanan tertentu, infeksi, hingga faktor keturunan. Pria usia produktif kisaran 40–50 tahun menjadi kelompok yang paling rentan. Risiko ini kian melonjak pada mereka yang mengalami obesitas, minim aktivitas fisik, serta bermukim di daerah beriklim panas.
"Banyak masyarakat menganggap batu saluran kemih hanya menyebabkan nyeri. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, batu dapat menyebabkan sumbatan saluran kemih, infeksi berat, gangguan fungsi ginjal, bahkan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan yang tepat sangat penting," jelas dr Teguh dalam keterangan, Kamis, 23 Juli 2026.
Nyeri Pinggang Hebat Bukan Satu-satunya Gejala
Gejala paling dominan dari kondisi ini adalah serangan sakit mendadak di area pinggang yang bisa menjalar sampai ke perut bawah, lipatan paha, hingga area vital. Saking hebatnya, tingkat nyeri ini acap kali disandingkan dengan proses persalinan. Gejala penyerta lainnya meliputi mual, muntah, kencing berdarah, perih saat buang air kecil, hingga demam tinggi jika sudah terinfeksi. Namun, tak jarang batu ginjal baru terdeteksi secara tak sengaja saat medical check-up karena tidak menimbulkan gejala awal.
Untuk mendiagnosisnya, dokter biasanya mengandalkan ultrasonografi (USG) sebagai tahapan awal yang aman dan bebas radiasi. Jika butuh pemetaan lebih rinci, pasien akan menjalani Non-Contrast CT Scan (NCCT) yang menjadi standar emas untuk melihat letak, ukuran, dan kepadatan batu secara presisi.
Penanganan Modern Tanpa Bedah Terbuka
Kemajuan teknologi urologi saat ini memungkinkan proses pembersihan batu dilakukan lewat prosedur minim invasif (minimally invasive) tanpa perlu operasi besar.
Untuk batu berukuran kecil, pasien cukup mengonsumsi obat-obatan khusus agar batu keluar alami bersama urine. Namun, jika batu telah menyumbat, menimbulkan infeksi, atau berisiko merusak fungsi ginjal, tindakan medis aktif harus segera diambil.
Baca Juga
RS Premier Bintaro menyediakan sejumlah opsi metode terapi modern:
- Shock Wave Lithotripsy (SWL/ESWL): Penghancuran batu menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh tanpa sayatan sama sekali.
- Ureteroscopy (URS) & Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS): Teknik endoskopi invasif minimal melalui saluran kencing untuk menghancurkan batu menggunakan tembakan laser tanpa mengiris kulit.
- Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) & Mini-PCNL: Solusi khusus untuk batu ginjal ukuran besar atau kompleks melalui lubang/sayatan yang amat kecil di kulit pinggang.
Penggunaan teknologi Thulium Fibre Laser terbaru kini membuat proses pemecahan batu menjadi jauh lebih cepat dan efektif. Tambahan sistem suction modern juga berfungsi menjaga stabilitas tekanan di dalam ginjal selama prosedur berlangsung, sehingga risiko infeksi dapat ditekan dan masa pemulihan pasien menjadi lebih singkat.
Cegah Batu Datang Lagi
Tantangan utama dari kasus ini adalah angka kekambuhan yang terbilang tinggi. Maka dari itu, penanganan tak berhenti hanya sampai batu bersih, melainkan berlanjut pada evaluasi pola hidup pasien.