Ini kali pertama saya menyaksikan balalaika ensemble. Waktu kali pertama ke Rusia dulu, kami, rombongan Presiden Soeharto mendapat kesempatan menonton teater balet di gedung balet tertua dan terhebat di St. Petersburg.
Setelah nonton balalaika ensemble, besok paginya saya ingin melihat-lihat isi toko: barangnya dari negara mana saja. Anda benar: kebanyakan produk Tiongkok. Tapi tiba-tiba saja saya bangga: di salah satu rak kosmetik terbaca oleh saya satu kata yang sudah sangat akrab di mata saya: WARDAH.
Saya dekati rak itu. Saya ambil salah satu produk di situ: benar-benar produk Wardah. Bahasa di kemasannya masih bahasa Indonesia. Hanya saja di kemasan itu ditempeli stiker lebar berbahasa Russia.
Saya foto produk itu. Saya juga ingin mejeng di depan rak Wardah. Foto itu akan saya kirim ke pemilik Wardah: Bu Nurhayati Subakat. Saya ucapkan selamat kepadanyi. Juga saya kirim ke anak laki-lakinyi yang kini sudah dipercaya pegang pucuk pimpinan di Wardah.
Ke mana-mana saya jalan kaki. Hanya ketika ingin melewati jembatan ikonik itu saya naik taksi. Sekalian ke mal terbesar di Vladivostok. Ada burger khas Rusia yang dipromosikan sebagai ''harus'' dicoba.
Saya sudah lupa nama burger itu. Gara-gara kepotong banyak menulis soal Jampidsus Febrie Adriansyah.
Anda sudah tahu: saya jarang mencatat apa pun yang saya liput.
Saya juga punya doktrin wartawan tidak boleh wawancara dengan cara menyodorkan alat perekam. Wartawan harus konsentrasi penuh saat wawancara: agar tertanam dalam ingatan. Juga agar segera menuliskan hasil wawancara. Kalau ditunda-tunda bisa lupa semua. Seperti saya lupa nama burger itu. Untung saya masih ingat rasanya: memang luar biasa. Dagingnya, rotinya, kejunya, burger terbaik yang pernah saya makan.
Roti di Rusia umumnya juga sangat enak. Tidak kalah dengan roti di Prancis.
Setiap kali makan roti di Vladivostok ingatan saya ke bagel jenis ''everything'' di New York.
Baca Juga
Di Connecticut, di Buffalo, di Niagara saya juga mencicipi bagel. Tapi memang tidak ada yang seenak bagel New York. Itu seperti tempe Bogor atau tempe Malang. Beda. Konon karena jenis air di New York, Bogor, dan Malang paling cocok untuk bagel dan tempe. (Dahlan Iskan)