Tekno . 18/07/2026, 20:21 WIB

Bayang-bayang Harga Fantastis PlayStation 6: Konsol Termahal Sony dalam Sejarah?

Penulis : Ari Nur Cahyo
Editor : Ari Nur Cahyo

fin.co.id - Kabar kurang sedap berhembus bagi para penggemar setia ekosistem PlayStation di seluruh dunia. Bayang-bayang harga konsol next-gen yang melampaui angka psikologis USD 1.000 atau sekitar Rp16 juta kini tampak semakin nyata. Di tengah tantangan krisis komponen memori global dan kebijakan tarif perdagangan yang dinamis, PlayStation 6 (PS6) diprediksi kuat menjadi konsol termahal yang pernah Sony rilis ke pasaran.

Pembocor informasi teknologi kenamaan, KeplerL2, baru-baru ini mengungkap data yang mengejutkan terkait biaya produksi konsol masa depan Sony tersebut. Ia melaporkan bahwa biaya komponen atau Bill of Materials (BOM) untuk PlayStation 6 membengkak secara signifikan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.

Pada Maret 2026, Kepler sempat mengestimasikan biaya produksi PS6 berada di angka USD 760. Secara teori, Sony masih bisa menjual konsol tersebut di harga USD 699 dan menutup kerugian lewat subsidi penjualan gim serta layanan tambahan. Namun, laporan terbaru Kepler menyebutkan bahwa biaya tersebut melonjak drastis sebesar USD 200. Artinya, modal yang harus dikeluarkan Sony untuk merakit satu unit konsol saja sudah mencapai angka yang sangat tinggi, belum termasuk biaya distribusi, pemasaran, dan margin keuntungan.

Faktor utama di balik kenaikan ini adalah kelangkaan pasokan RAM global yang melipatgandakan harga DRAM dan NAND sejak tahun lalu. Sebagai perbandingan, PlayStation 5 saja sudah mengalami kenaikan harga menjadi USD 549, sementara versi Pro menyentuh angka fantastis USD 899. Fenomena ini tentu membuat posisi tawar konsumen semakin sulit.

Berbeda dengan strategi konsol generasi sebelumnya yang sangat gencar mengejar basis pengguna sebanyak-banyaknya melalui perang harga, Sony kini secara terbuka mengubah arah bisnisnya. Presiden dan CEO Sony Interactive Entertainment, Hideaki Nishino, dalam pertemuan dengan para investor baru-baru ini menegaskan pergeseran paradigma tersebut.

Sony kini memprioritaskan profitabilitas di atas segalanya. Perusahaan memutuskan untuk tidak lagi memberikan subsidi harga konsol demi menarik pengguna baru. Sebaliknya, mereka memilih untuk melakukan monetisasi kepada basis pengguna yang sudah ada melalui pendapatan berulang (recurring revenue), seperti biaya langganan PlayStation Plus dan konten tambahan atau DLC. Strategi ini menandai berakhirnya era di mana perusahaan rela merugi di awal penjualan perangkat demi mendapatkan pangsa pasar yang dominan.

Mengintip Rumor Konsol Portabel "Canis"

Di samping fokus pengembangan PS6, Sony dikabarkan sedang menyiapkan perangkat pendamping yang lebih fleksibel untuk memperkuat ekosistem mereka. Rumor kencang menyebutkan adanya konsol portabel dengan kode nama "Canis". Perangkat ini dirancang sebagai pendamping setia bagi pengguna yang menginginkan pengalaman bermain mobile dengan performa tinggi.

Perangkat tersebut mengandalkan prosesor varian lebih kecil dari chip PS6 dengan spesifikasi yang diklaim mampu melampaui performa Xbox Series S. Secara teknis, perangkat ini mengusung:

CPU: 4 inti Zen 6C dengan kecepatan 2,2GHz.

GPU: 12 hingga 20 unit komputasi RDNA 5.

Memori: LPDDR5X-7500 dengan bus 128-bit.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id