fin.co.id - Masyarakat Iran mengantarkan mantan Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, ke tempat peristirahatan terakhir pada Jumat, 10 Juli 2026. Prosesi penguburan ini berlangsung lebih dari empat bulan setelah kematian Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Prosesi pemakaman ini berjalan di bawah bayang-bayang ketegangan militer yang kembali memuncak. Washington dan Teheran saling meluncurkan gempuran balasan selama dua hari berturut-turut, sehingga memicu kekhawatiran global akan meletusnya perang terbuka secara penuh di kawasan Timur Tengah.
Lautan Manusia Memadati Makam Imam Reza
Petugas mengangkat peti jenazah Khamenei yang terselimuti bendera ke dalam makam Imam Reza di kota kelahirannya, Mashhad, Iran timur. Sementara itu, lautan manusia berkumpul di luar area pemakaman untuk mendengarkan lantunan doa dalam suasana yang sangat ketat.
"Jenazah pemimpin Revolusi Islam yang gugur itu dimakamkan di aula peringatan makam Imam Reza," lapor penyiar negara IRIB.
Sejumlah tokoh penting menghadiri prosesi tersebut, termasuk Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator dalam pembicaraan dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf. Hadir pula Ketua Mahkamah Agung yang berpengaruh, Gholamhossein Mohseni Ejei, serta putra sulung Khamenei, Mostafa Khamenei. Tayangan televisi pemerintah memperlihatkan beberapa tokoh senior tersebut menangis di atas peti mati sang mantan pemimpin.
Namun, publik tidak melihat kehadiran penerus sekaligus putra Khamenei lainnya, Mojtaba Khamenei. Sejak otoritas mengumumkan namanya sebagai pemimpin baru, Mojtaba belum pernah muncul di depan umum dan hanya berkomunikasi melalui pernyataan tertulis. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa ia mengalami luka-luka dalam serangan mematikan pada 28 Februari yang juga menewaskan Khamenei beserta anggota keluarga dekatnya.
Slogan Balas Dendam dan Ancaman Terhadap Trump
Prosesi pemakaman di Mashhad dipenuhi oleh atmosfer kemarahan publik yang mendalam. Koresponden AFP melaporkan bahwa kerumunan massa pria dan wanita berbaju hitam menyerukan aksi balas dendam terhadap Presiden AS Donald Trump. Mereka membawa spanduk dengan slogan khusus.
"Hei Trump, kami akan membunuhmu," tulis massa dalam bahasa Inggris.
Di saat yang sama, ketegangan intelijen turut memanas. Laporan dari Wall Street Journal pada hari Kamis, yang mengutip sumber anonim, menyatakan bahwa pihak Israel telah memberi tahu AS mengenai deteksi rencana baru dari Iran untuk membunuh Trump.
Eskalasi Militer dan Dampak Kerusakan Infrastruktur
Eskalasi bersenjata di lapangan terus memakan korban jiwa dan mengganggu infrastruktur publik. Pejabat Iran melaporkan bahwa serangan terbaru dari militer AS telah menewaskan 17 orang. Salah satu serangan tersebut menyasar jalur kereta api strategis yang menghubungkan Teheran dan Mashhad pada titik 55 kilometer dari Mashhad, sehingga memaksa penutupan jalur dan pengalihan penumpang ke armada bus.
Baca Juga
Media pemerintah Iran juga mengabarkan bahwa AS mengarahkan serangan ke perimeter satu-satunya pembangkit nuklir sipil Iran di provinsi Bushehr. Sebuah proyektil juga dilaporkan menghantam markas militer di pinggiran wilayah tersebut. Namun, seorang pejabat pertahanan AS menyangkal hal itu dan menyatakan bahwa militer Amerika Serikat saat ini tidak sedang melakukan operasi serangan apa pun terhadap Iran.
Sebagai respons, tentara Iran mengklaim telah melanjutkan gempuran terhadap aset-aset serta pangkalan Amerika Serikat di wilayah Teluk. Mereka mengerahkan drone untuk menargetkan sistem pencegat rudal Patriot di Kuwait, sistem peringatan dini di Qatar, serta tangki penyimpanan bahan bakar di Bahrain.