fin.co.id - Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah kembali memuncak. Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 20 kapal ke Timur Tengah untuk mendukung operasi militer yang sedang berlangsung di kawasan tersebut, kata Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa, 28 Juli 2026.
Pernyataan resmi armada militer AS menegaskan kesiapan kekuatan mereka di perairan internasional strategis tersebut. "Ada lebih dari 20 kapal yang beroperasi di seluruh wilayah Timur Tengah untuk mendukung operasi militer, termasuk penegakan ketat blokade tembok baja AS terhadap Iran," kata CENTCOM di platform X.
Tekanan armada laut tersebut turut memaksa kapal-kapal niaga mengubah jalur pelayarannya di wilayah sengketa. Selain itu, satu kapal komersial tambahan telah diperintahkan untuk mengubah arah pelayarannya sesuai dengan blokade angkatan laut tersebut, sehingga jumlahnya menjadi 18, lanjut CENTCOM.
Saling Tuding Pelanggaran Gencatan Senjata dan Konflik Selat Hormuz
Kondisi geopolitik yang memburuk ini memupuskan harapan perdamaian yang sempat disepakati kedua belah pihak beberapa pekan sebelumnya. AS dan Iran sebenarnya telah menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengupayakan berakhirnya konflik sejak 28 Februari.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh di tengah jalan setelah aksi saling serang kembali pecah di lapangan. Namun, militer AS kembali melancarkan beberapa serangan terhadap Iran sejak 8 Juli. CENTCOM mengklaim bahwa hal ini merupakan respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah ofensif dari pihak Amerika Serikat langsung memicu aksi balasan yang lebih sengit dari militer Iran. Iran kemudian melakukan balasan dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS yang berada di Timur Tengah dan menuding AS melanggar perjanjian gencatan senjata. Trump kemudian menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati oleh Iran tidak lagi berlaku.