Selat Hormuz Kembali Memanas: AS-Iran Berbalas Serangan di Jalur Minyak Strategis!

fin.co.id - 09/07/2026, 14:53 WIB

Selat Hormuz Kembali Memanas: AS-Iran Berbalas Serangan di Jalur Minyak Strategis!

AS dan Iran saling berbalas serangan udara di Selat Hormuz.

fin.co.id – Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kian mencekam setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling balas serangan udara selama dua hari berturut-turut hingga Kamis, 9 Juli 2026. Kedua negara kini bertikai hebat demi memperebutkan kendali atas Selat Hormuz, sebuah koridor pengiriman minyak yang sangat vital bagi pasokan energi global.

Koridor pelayaran ini menjadi titik panas utama dalam eskalasi perang Timur Tengah. Teheran bersikeras memegang kendali penuh atas selat tersebut. Padahal, jalur perairan internasional ini sebelumnya terbuka bebas untuk lalu lintas kapal komersial global sebelum agresi militer gabungan AS-Israel pecah pada Februari lalu.

Ketegangan memuncak menyusul aksi baku tembak intensif antara kedua belah pihak pada Rabu, 8 Juli 2026. Menanggapi situasi ini, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan sejahtera dengan Iran kini telah "berakhir".

Kendati demikian, Trump menyatakan tetap membuka ruang dialog untuk pembicaraan lebih lanjut, sembari menambahkan keyakinannya bahwa setiap pertempuran akan segera berakhir.

"Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social. "Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!"

Saat berbicara kepada para jurnalis di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengungkapkan bahwa pihak Iran baru saja "menelepon beberapa saat yang lalu", dan bahwa mereka "sangat ingin membuat kesepakatan".

Namun, Trump enggan merinci identitas pejabat Iran di ujung telepon tersebut. Ia bahkan meragukan nilai dari potensi kesepakatan tersebut dengan menyebut Iran "agak gila".

Gempuran Udara CENTCOM dan Balasan Kilat Garda Revolusi Iran

Militer AS menyatakan bahwa operasi udara terbaru mereka bertujuan untuk melumpuhkan "kemampuan mereka untuk mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz".

Langkah defensif ini merespons aksi penyerangan Iran terhadap sejumlah kapal komersial di jalur strategis tersebut belakangan ini.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya berhasil menghantam sekitar 90 target militer strategis sepanjang garis pantai Iran, termasuk fasilitas penyimpanan rudal, hanggar drone, serta pusat logistik militer.

Berdasarkan laporan media resmi Iran, rudal-rudal Amerika berhasil menghancurkan sebuah jembatan kereta api di wilayah timur laut Iran. Kantor berita resmi IRNA juga mengabarkan adanya serangan udara yang menyasar pangkalan militer di pesisir Bushehr, kawasan strategis yang menjadi lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil milik Iran.

Sebelumnya, raungan pesawat tempur terdengar jelas di atas Pulau Kish, sementara ledakan keras mengguncang sejumlah kota pelabuhan utama seperti Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar hingga memutus aliran listrik di sebagian wilayah.

Garda Revolusi Iran (IRGC) segera meluncurkan serangan balasan kilat. Pasukan elite Teheran ini mengeklaim telah menggempur "infrastruktur dan fasilitas utama" di pangkalan militer milik Amerika Serikat, termasuk Pangkalan Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta Pangkalan Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain.

Jurnalis AFP di lokasi melaporkan bunyi rentetan ledakan keras di ibu kota Bahrain, Manama, sedangkan otoritas pertahanan Kuwait melaporkan keberhasilan sistem pertahanan mereka dalam mencegat "serangan rudal dan drone musuh".

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID