Nasional . 04/07/2026, 10:44 WIB

Indonesia Paparkan Pengalaman Kelola Gambut Berbasis Data di Forum GPI Peru

Penulis : Sahroni
Editor : Sahroni

fin.co.id - Indonesia memaparkan pembelajaran dan pengalaman dalam pengelolaan ekosistem gambut melalui pendekatan hidrologi, pemantauan karbon, pengendalian emisi gas rumah kaca, serta sistem pemetaan dan monitoring berbasis data pada hari ketiga pertemuan tingkat teknis Global Peatlands Initiative (GPI) di Lima, Peru pada Kamis, 2 Juli 2026.

Agus Justianto dalam paparannya menyampaikan bahwa perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut menjadi bagian penting dari pembangunan rendah karbon, terutama dalam mendukung pencapaian target kontribusi nasional yang ditetapkan Indonesia melalui Nationally Determined Contribution (NDC).

“Pengelolaan gambut tidak hanya berbicara tentang perlindungan lahan basah, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia menurunkan emisi, menjaga fungsi hidrologi, melindungi keanekaragaman hayati, dan memastikan pemanfaatan gambut dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Agus.

Agus menjelaskan, kerangka pengelolaan karbon pada ekosistem gambut mencakup perlindungan gambut yang masih dalam kondisi baik, pengelolaan berkelanjutan, pencegahan kerusakan tutupan gambut, pencegahan pengeringan, penataan kembali fungsi gambut, restorasi hidrologi, hingga rehabilitasi fungsi ekosistem setelah proses pemulihan.

Menurut dia, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa pengelolaan gambut harus dilakukan secara sistematis dan terintegrasi, tidak hanya pada skala tapak, tetapi juga pada skala Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) agar keseimbangan air, fungsi ekosistem, dan emisi karbon dapat dikendalikan secara optimal.

“Tujuan akhirnya adalah mencapai keseimbangan gas rumah kaca yang optimal. Karena itu, pengelolaan gambut harus memastikan muka air tanah tetap terjaga, menghindari drainase berlebihan, mencegah penggunaan api, serta memilih komoditas yang sesuai dengan karakteristik gambut,” katanya.

Ia menambahkan, Indonesia juga terus memperkuat riset dan inovasi restorasi gambut dengan melibatkan 17 perguruan tinggi dan 10 lembaga riset. Pengembangan tersebut mencakup sistem pemantauan gambut, pengelolaan air, paludikultur, perhitungan karbon, sistem informasi, serta demonstrasi lapangan sebagai pusat pembelajaran dan replikasi praktik terbaik.

Agus mengatakan kawasan gambut Indonesia juga memiliki nilai ekologis penting, antara lain sebagai habitat satwa kunci, kawasan konservasi, ruang kelola sosial, serta penyangga ketahanan iklim. Karena itu, restorasi dan perlindungan gambut harus dipahami sebagai agenda ekologis, sosial, dan ekonomi secara bersamaan.

Sementara itu, Bambang Supriyanto memaparkan pengalaman Indonesia dalam membangun sistem pemetaan hidrologis gambut berbasis kedalaman kubah gambut sebagai dasar penentuan lokasi prioritas restorasi dan pengelolaan.

Bambang menjelaskan bahwa pemetaan hidrologis gambut dilakukan dengan membagi KHG ke dalam sub-area hidrologis yang saling terhubung, antara lain zona kubah gambut sebagai area penyimpanan air dan konservasi, zona penyangga, serta zona budidaya yang harus dikelola secara hati-hati.

“Pemetaan hidrologis menjadi fondasi penting karena restorasi gambut tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap lokasi memiliki karakteristik air, tutupan lahan, tingkat degradasi, riwayat kebakaran, kanal, dan keterlibatan masyarakat yang berbeda,” ujar Bambang.

Ia mengatakan penentuan prioritas restorasi juga menggunakan sejumlah kriteria, seperti fungsi gambut, tutupan lahan, fungsi kawasan hutan, tingkat degradasi, kejadian kebakaran, kerapatan kanal, badan air, kelas gambut, serta unit respons hidrologis.

Menurut Bambang, pendekatan tersebut membantu pemerintah menentukan langkah restorasi yang tepat, mulai dari pembasahan kembali atau rewetting, revegetasi, hingga revitalisasi ekonomi masyarakat melalui penguatan kapasitas, ekonomi hijau, dan pemanfaatan gambut secara berkelanjutan.

“Restorasi gambut akan lebih berhasil apabila berbasis data, mempertimbangkan kondisi hidrologis, dan melibatkan masyarakat. Karena masyarakat di sekitar kawasan gambut merupakan aktor penting dalam menjaga keberlanjutan hasil restorasi,” katanya.

Bambang juga menekankan pentingnya sistem monitoring, reporting, and verification (MRV) dalam memastikan intervensi restorasi dapat dipantau secara transparan dan berkelanjutan. Indonesia, kata dia, telah mengembangkan sistem data dan informasi digital untuk restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove, termasuk pemantauan tinggi muka air, sistem informasi restorasi, fire danger rating system, serta perangkat pemantauan lapangan.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id