Catatan Dahlan Iskan . 02/07/2026, 05:30 WIB

Niagara SW60+

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

Oleh: Dahlan Iskan

Vonis 10 tahun penjara untuk Nadiem Makarim datang saat saya di Niagara: seru. Sejak kasus itu disidangkan sudah terjadi polemik sangat bermutu di forum terbatas grup WA wartawan tua, SW60+.

Saya mengikuti polemik itu. Utamanya antara mantan Pemred TEMPO Bambang Harimurti (BHM) dengan mantan wartawan Kompas Arya Gunawan.

BHM cenderung membela mantan menteri pendidikan dan kebudayaan di zaman Jokowi periode kedua itu.

Arya tujuh tahun di Kompas, selulusnya dari ITB. Lalu pindah ke BBC London, lima tahun di sana. Setelah itu anak Jambi turunan Jambi-Minang itu bekerja untuk UNESCO di Wina, Austria. Sekarang Arya tinggal di Jakarta.

Saking bermutunya saya sampai ingin menyiarkan isi polemik itu di Disway. Tapi pembicaraan di grup WA adalah ranah ”pribadi” grup WA. Tidak boleh ke luar grup. Saya sedang cari cara untuk bisa membagi isi polemik itu kepada pembaca Disway. Saya ingin minta izin mereka: apakah boleh.

Perdebatan di situ ”sangat hukum” dan ”sangat jurnalisme”. Mulai dari perdebatan apa itu fakta persidangan dan apa itu asumsi. Juga soal mensrea, presumption of innocence, antara fitnah dan analisa interpretasi berbasis fakta, apa itu penghakiman pers dan konflik kepentingan.

Sebelum itu saya sudah membaca banyak tulisan Agustinus Edy Kristianto, juga mantan wartawan. Agustinus adalah penulis yang paling kritis membahas kasus Cromebooks. Sebelum itu pun ia sudah sangat kritis membahas soal GoTo dan investasi Telkom di dalamnya. Juga soal permainan saham, merger, dan laporan keuangannya.

Polemik itu sangat baik bagi saya: agar tidak bisa terlalu menikmati keindahan Niagara. Maka di taman dekat Niagara ini saya lebih banyak membaca dari pada menatap ke air terjun kembar di depan sana.

Banyak pendapat wartawan tua lainnya juga saya baca. Tapi fokus utama saya tetap pada polemik BHM dan Arya Gunawan.

Inilah grup WA yang seru. Selama jadi anggotanya saya hanya posting dua kali. Dua-duanya tidak ada hubungan dengan kasus Nadiem Makarim.

Postingan pertama hanya memberi dorongan keberanian kepada seorang wartawan tua yang oleh dokter diminta segera operasi empedu.

Yang kedua soal kekhawatiran saya di awal terbentuknya ”grup Wartawan 60+” ini: jangan-jangan hanya akan seperti grup WA lainnya. Yakni lebih banyak untuk posting doa-doa, ajakan salat tahajud dan mengingatkan sudah waktunya salat subuh.

Saya minta grup baru itu tidak mengizinkan postingan seperti itu. Bukan saya anti tapi sudah banyak mendapatkan hal yang sama di grup yang lain. Biar beda grup isinya sama.

Doa, ajakan tahajud dan salat subuhnya bukan tulisan sendiri melainkan hanya reposting ajakan yang sama dari grup lain.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id