Internasional . 28/06/2026, 08:14 WIB

Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata di Selat Hormuz Terancam Runtuh

Penulis : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

fin.co.id - Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ujung tanduk setelah militer AS melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di wilayah Iran. Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz yang dituding dilakukan oleh Teheran.

Eskalasi terbaru ini menambah ketegangan di tengah proses negosiasi yang sebelumnya diharapkan dapat mengakhiri konflik yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Minggu 28 Juni 2026, mengonfirmasi telah menggempur beberapa target di Iran. Menurut pernyataan militer AS, operasi itu dilakukan sebagai balasan atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak berbendera Panama, Kiku, yang mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah.

Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut sasaran serangan mencakup infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, hingga kemampuan penyebaran ranjau.

Sementara itu, laporan AFP menyebut media Iran mengabarkan sejumlah ledakan terdengar di kawasan Sirik dan Pulau Qeshm yang berada di wilayah selatan negara tersebut.

Sebelumnya, pada Jumat (26/6), Amerika Serikat juga mengklaim telah menyerang target di Iran sebagai balasan atas insiden yang menimpa kapal Ever Lovely.

Iran kemudian merespons melalui serangan terhadap target-target Amerika Serikat di kawasan Teluk pada Sabtu (27/6). Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa "jika agresi diulangi, tanggapan kami akan lebih luas."

Rangkaian aksi saling serang ini memperlihatkan memanasnya perselisihan mengenai kendali di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak dunia.

Teheran sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak memasuki maupun meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz tanpa izin. Meski demikian, aktivitas pelayaran tetap berlangsung dan sebagian kapal disebut menggunakan rute yang tidak diizinkan oleh Iran.

Pengamat dari Royal United Services Institute (RUSI), H.A. Hellyer, menilai Iran kemungkinan akan tetap menjalankan tekanan terbatas di sekitar Selat Hormuz. "Iran kemungkinan akan terus melakukan aktivitas paksaan tingkat rendah yang terukur di dalam dan sekitar Selat Hormuz.... untuk menciptakan tekanan terus-menerus pada pelayaran internasional tanpa memicu konflik yang lebih luas".

Menurut Hellyer, pemilu paruh waktu Kongres Amerika Serikat pada November 2026 dapat menjadi faktor yang mendorong Washington mempercepat tercapainya kesepakatan. Di sisi lain, ia menilai bagi Iran, "negosiasi yang berlarut-larut disertai dengan tekanan terkontrol di selat dapat menguntungkan mereka."

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id