Ragam . 25/06/2026, 13:33 WIB

Transisi Energi VS Geopolitik, Gubes ITPLN: Indonesia Harus Siapkan Strategi Integrasi

Penulis : AdminFIN
Editor : AdminFIN

fin.co.id - Transisi energi global yang ditandai pergeseran dari bahan bakar fosil menuju sistem energi rendah karbon dan energi terbarukan kini tidak hanya ditentukan oleh faktor teknologi maupun lingkungan. Perkembangan geopolitik dunia semakin berperan besar dalam menentukan arah dan kecepatan implementasi transisi energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Ir. Syamsir Abduh, MM., PhD., IPU.ASEAN.Eng., mengatakan transisi energi telah berkembang menjadi isu strategis yang berkaitan erat dengan keamanan energi, rantai pasokan global, penguasaan mineral penting, daya saing industri, hingga hubungan antarnegara.

Menurutnya, kompleksitas tersebut membuat proses transisi energi menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu.

"Transisi energi bukan lagi semata-mata tantangan lingkungan atau teknologi. Saat ini, transisi energi telah menjadi isu geopolitik strategis yang melibatkan keamanan energi, rantai pasokan, mineral penting, daya saing industri, dan hubungan internasional," ujar Syamsir dalam keterangannya, Kamis, 25 Juni 2026.

Ia menjelaskan, ketergantungan dunia terhadap mineral kritis seperti nikel, litium, kobalt, dan tanah jarang untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, baterai, serta pembangkit energi terbarukan berpotensi memicu persaingan geopolitik baru. Kondisi tersebut dapat mengganggu rantai pasokan dan meningkatkan risiko ketidakstabilan harga komoditas energi masa depan.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Syamsir menilai setiap negara perlu melakukan diversifikasi rantai pasokan mineral penting agar tidak bergantung pada satu kawasan atau negara tertentu.

Selain itu, penguatan kerja sama energi regional juga menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan mempercepat pengembangan infrastruktur energi bersih.

Di sisi lain, investasi pada kemampuan manufaktur energi terbarukan dalam negeri perlu diperkuat guna meningkatkan nilai tambah nasional dan mengurangi ketergantungan impor teknologi.

*Ketahanan jaringan listrik, sistem penyimpanan energi, serta pengembangan ekonomi sirkular untuk baterai dan material kritis juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan transisi energi," tegasnya.

Syamsir menambahkan, kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi energi bersih harus terus didorong bersamaan dengan upaya memperluas mekanisme pembiayaan hijau.

Menurut dia, ketersediaan pendanaan yang memadai akan menjadi salah satu penentu keberhasilan percepatan proyek-proyek energi rendah karbon di negara berkembang.

"Negara-negara yang mampu mengelola keterkaitan antara keamanan energi, pembangunan industri, tata kelola mineral penting, dan kebijakan dekarbonisasi akan memperoleh keuntungan ekonomi serta strategis yang besar dalam ekonomi rendah karbon yang sedang tumbuh. Bagi Indonesia, keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan seluruh aspek tersebut ke dalam strategi nasional yang koheren, adil, dan inklusif," tutur Syamsir.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id